Di tengah gencarnya kampanye kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, kondom perempuan masih belum populer di Indonesia. Alat kontrasepsi yang sebenarnya memberi kontrol lebih besar pada perempuan ini tetap tertinggal jauh dibanding pil, suntik, implan, apalagi kondom laki laki. Banyak yang bahkan belum pernah melihat bentuknya secara langsung, hanya sekadar mendengar namanya. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting tentang akses informasi, budaya, hingga kebijakan publik yang memengaruhi pilihan kontrasepsi perempuan Indonesia.
Kondom Perempuan Masih Belum Populer: Apa Sebenarnya Alat Ini?
Sebelum membahas lebih jauh mengapa kondom perempuan masih belum populer, penting untuk memahami apa sebenarnya alat ini dan bagaimana cara kerjanya. Kondom perempuan adalah selubung tipis yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Fungsinya ganda, sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan sebagai pelindung dari infeksi menular seksual.
Berbeda dengan kondom laki laki yang dipakai di penis, kondom perempuan memiliki cincin di kedua ujungnya. Cincin bagian dalam dimasukkan ke dalam vagina untuk menahan kondom tetap di tempat, sementara cincin luar berada di bagian luar dan menutupi sebagian vulva. Bahan pembuatnya biasanya poliuretan atau nitril, yang lebih kuat dan bisa digunakan bagi mereka yang alergi lateks.
Dalam teori, alat ini memberi keuntungan besar bagi perempuan. Mereka tidak harus bergantung pada pasangan laki laki untuk memakai kondom, dan tidak perlu mengonsumsi hormon seperti pada pil atau suntik. Namun di lapangan, pemahaman ini belum merata dan kerap kali kalah oleh mitos serta rasa canggung membicarakan seksualitas secara terbuka.
“Di banyak ruang keluarga dan ruang kelas, seks dibahas sebagai sesuatu yang harus dihindari, bukan sesuatu yang perlu dipahami. Di situlah kontrasepsi, termasuk kondom perempuan, kehilangan panggungnya.”
Mengapa Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Mata Publik?
Ketika membicarakan mengapa kondom perempuan masih belum populer, kita perlu melihat bagaimana publik mengenal dan memaknai alat ini. Di iklan layanan masyarakat, poster puskesmas, hingga percakapan sehari hari, kondom hampir selalu diidentikkan dengan laki laki. Kondom perempuan seolah menjadi produk pinggiran, tidak muncul di etalase utama, baik secara harfiah di apotek maupun secara simbolik dalam wacana publik.
Kurangnya visibilitas ini membuat banyak orang menganggap kondom perempuan sebagai sesuatu yang asing, rumit, bahkan tidak perlu. Padahal, dalam situasi ideal, setiap pasangan berhak mengetahui semua opsi yang ada agar bisa memilih yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan, keyakinan, dan kenyamanan mereka.
Selain itu, pembicaraan tentang alat kontrasepsi sering kali berhenti di tataran “yang sudah biasa dipakai”. Petugas kesehatan di lini terdepan juga cenderung merekomendasikan metode yang paling sering diminta pasien, seperti pil, suntik, dan implan. Kondom perempuan yang jarang ditanyakan, otomatis jarang dijelaskan.
Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Layanan Kesehatan
Di banyak fasilitas kesehatan, kondom perempuan masih belum populer bukan hanya di kalangan pasien, tetapi juga di kalangan tenaga kesehatan. Ketika seorang perempuan datang untuk berkonsultasi tentang keluarga berencana, pilihan yang segera muncul biasanya terbatas pada metode hormonal, IUD, atau kondom laki laki. Kondom perempuan sering tidak disebutkan sama sekali.
Minimnya Sosialisasi Membuat Kondom Perempuan Masih Belum Populer
Salah satu alasan mengapa kondom perempuan masih belum populer adalah minimnya sosialisasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Program edukasi kesehatan reproduksi di sekolah, puskesmas, maupun kampanye publik jarang menyertakan penjelasan detail tentang kondom perempuan. Bahkan di materi pelatihan tenaga kesehatan, porsi pembahasan alat ini sering kali sangat singkat.
Kondisi ini menciptakan lingkaran yang berulang. Karena tidak banyak yang tahu, permintaan rendah. Karena permintaan rendah, stok dan sosialisasi pun dianggap tidak prioritas. Akhirnya, kondom perempuan tetap berada di posisi pinggiran, hanya dikenal oleh kalangan terbatas seperti aktivis kesehatan reproduksi atau organisasi tertentu.
Di beberapa daerah, petugas kesehatan mengaku belum pernah melihat langsung kondom perempuan, hanya mendengar dalam pelatihan atau membaca di modul. Situasi semacam ini membuat mereka kesulitan menjelaskan cara pakai atau kelebihan dan kekurangannya kepada pasien. Padahal, penjelasan langsung tatap muka sering kali menjadi faktor penentu seseorang merasa yakin mencoba metode baru.
Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Tengah Norma Budaya
Di luar persoalan teknis dan kebijakan, ada tembok besar yang memengaruhi mengapa kondom perempuan masih belum populer, yaitu norma budaya dan nilai moral yang mengelilingi tubuh perempuan. Di banyak komunitas, pembicaraan tentang seks dan kontrasepsi masih dianggap tabu, apalagi jika diinisiasi oleh perempuan.
Perempuan yang berinisiatif membawa kondom, termasuk kondom perempuan, kerap dicurigai “terlalu aktif secara seksual” atau “tidak sopan”. Stigma ini membuat banyak perempuan memilih diam, meski sebenarnya mereka ingin melindungi diri dari kehamilan yang tidak direncanakan atau penyakit menular seksual.
Dalam budaya yang menempatkan laki laki sebagai pengambil keputusan utama, urusan kontrasepsi pun sering kali diputuskan oleh suami atau pasangan. Ketika laki laki menolak memakai kondom, perempuan sering kehabisan ruang untuk bernegosiasi. Kondom perempuan seharusnya bisa menjadi jalan keluar, namun karena tidak dikenal luas dan dibayangi stigma, peluang itu tidak dimanfaatkan.
Di beberapa kalangan, pembicaraan tentang kondom saja sudah dianggap melanggar norma. Apalagi jika yang dibahas adalah kondom yang dipakai oleh perempuan. Akibatnya, diskusi yang seharusnya rasional dan berbasis kesehatan berubah menjadi perdebatan moral, sehingga informasi ilmiah tenggelam oleh penilaian sosial.
Ketika Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Rak Apotek
Jika masuk ke apotek atau minimarket, konsumen akan dengan mudah menemukan kondom laki laki dengan berbagai merek dan varian. Namun untuk kondom perempuan, ceritanya sangat berbeda. Di banyak tempat, produk ini bahkan tidak tersedia. Jika pun ada, jumlahnya terbatas dan sering ditempatkan di sudut yang tidak mencolok.
Kondisi ini berkontribusi besar pada kenyataan bahwa kondom perempuan masih belum populer. Akses fisik yang sulit membuat mereka yang sebenarnya tertarik mencoba akhirnya mengurungkan niat. Tidak semua orang nyaman memesan secara daring, dan tidak semua wilayah memiliki layanan pengiriman yang memadai.
Selain itu, harga kondom perempuan umumnya lebih mahal dibanding kondom laki laki. Bagi banyak pasangan dengan penghasilan terbatas, ini menjadi pertimbangan penting. Tanpa kebijakan subsidi atau program distribusi khusus, kondom perempuan akan tetap menjadi produk “eksklusif” yang tidak terjangkau sebagian besar masyarakat.
Pelaku usaha juga cenderung ragu menyediakan stok banyak untuk barang yang perputarannya lambat. Mereka khawatir produk menumpuk di gudang dan kedaluwarsa. Alasan bisnis ini, meski wajar, pada akhirnya memperkuat lingkaran sepi peminat dan sepi ketersediaan.
“Selama produk kesehatan reproduksi untuk perempuan diperlakukan sebagai komoditas pinggiran, pilihan mereka untuk melindungi diri akan selalu terbatas oleh keputusan pasar.”
Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Ruang Edukasi Seks
Ruang edukasi seks di Indonesia, baik formal maupun informal, masih sangat sempit. Kurikulum sekolah yang membahas kesehatan reproduksi sering tersandera perdebatan, sehingga materi yang disampaikan cenderung dangkal dan normatif. Di tengah keterbatasan itu, tidak mengherankan jika kondom perempuan masih belum populer, bahkan di kalangan remaja dan dewasa muda yang sebenarnya sangat membutuhkan informasi.
Di kelas kelas sekolah menengah, topik yang menyentuh seksualitas sering cepat dilewati, dengan penekanan pada abstinensi dan bahaya seks bebas. Pembahasan tentang alat kontrasepsi, jika ada, biasanya hanya sekilas dan tidak rinci. Kondom laki laki mungkin disebut sebagai contoh, tetapi kondom perempuan hampir selalu absen.
Padahal, generasi muda hidup di era informasi digital yang membuat mereka rentan terpapar perilaku seksual berisiko tanpa diimbangi pengetahuan memadai tentang perlindungan. Ketika mereka mencari jawaban di internet, informasi yang ditemukan sering kali campur aduk antara fakta, opini, dan mitos. Tanpa panduan yang jelas, kondom perempuan tetap berada di wilayah abu abu, dikenal setengah setengah dan tidak dipahami dengan benar.
Di luar sekolah, ruang edukasi yang ramah dan aman untuk membahas kontrasepsi juga masih terbatas. Banyak anak muda enggan datang ke puskesmas karena takut dihakimi atau dianggap “nakal”. Layanan yang seharusnya inklusif dan non diskriminatif sering kali tidak terasa ramah bagi kelompok usia muda yang belum menikah.
Saat Kondom Perempuan Masih Belum Populer di Kalangan Perempuan Sendiri
Ironisnya, salah satu alasan kondom perempuan masih belum populer adalah karena banyak perempuan sendiri yang belum merasa nyaman dengan gagasan menggunakan alat tersebut. Ada yang menganggapnya rumit, ada yang takut sakit, ada yang malu jika ketahuan pasangannya, dan ada juga yang merasa itu “bukan untuk orang baik baik”.
Sebagian perempuan merasa canggung dengan ide memasukkan alat ke dalam vagina secara mandiri. Pengalaman pertama mencoba sering kali diwarnai rasa takut salah, takut robek, atau takut “tertinggal di dalam”. Tanpa pendampingan atau edukasi yang baik, pengalaman tidak nyaman ini bisa membuat mereka enggan mencoba lagi.
Ada pula kekhawatiran soal reaksi pasangan. Beberapa laki laki mungkin merasa tidak terbiasa melihat kondom perempuan atau menganggapnya mengurangi sensasi. Di sinilah keterbukaan komunikasi menjadi sangat penting. Namun sayangnya, banyak hubungan yang tidak memberi ruang aman bagi perempuan untuk mengutarakan keinginan menggunakan perlindungan tambahan.
Di sisi lain, sebagian perempuan yang sudah nyaman dengan metode kontrasepsi lain mungkin merasa tidak perlu beralih atau menambah pilihan. Mereka sudah terbiasa dengan pil atau suntik, dan merasa baik baik saja. Tanpa informasi tentang kelebihan kondom perempuan, seperti perlindungan dari infeksi menular seksual, motivasi untuk mencoba tetap rendah.
Kondom Perempuan Masih Belum Populer, Padahal Potensinya Besar
Jika menilik kembali alasan alasan mengapa kondom perempuan masih belum populer, terlihat bahwa masalahnya bukan pada alat itu sendiri, melainkan pada ekosistem yang mengelilinginya. Dari kebijakan, distribusi, budaya, hingga edukasi, semua berperan membentuk realitas bahwa alat ini nyaris tak terdengar di tengah masyarakat luas.
Padahal, potensi kondom perempuan untuk memperkuat posisi tawar perempuan dalam hubungan seksual sangat besar. Dengan alat ini, perempuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kesediaan pasangan memakai kondom. Mereka bisa mengambil langkah aktif melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual, terutama dalam situasi ketika negosiasi sulit dilakukan.
Jika suatu saat nanti kondom perempuan tidak lagi menjadi istilah asing, melainkan pilihan yang dikenal luas dan diterima, itu akan menandai perubahan penting dalam cara kita memandang tubuh dan hak kesehatan reproduksi perempuan. Namun sampai hari itu tiba, pertanyaan mengapa kondom perempuan masih belum populer di Indonesia tetap menjadi cermin yang memantulkan banyak pekerjaan rumah yang belum tersentuh.


Comment