Perubahan zaman selalu melahirkan pergeseran perilaku, termasuk dalam hal kebiasaan sehari hari. Di era digital yang serba cepat, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z semakin terlihat mencolok dibanding generasi sebelumnya. Mulai dari cara berkomunikasi, bekerja, hingga menghibur diri, generasi yang lahir sekitar akhir 1990 an hingga awal 2010 an ini membentuk pola baru yang sering kali membuat generasi lebih tua menggelengkan kepala. Namun, di balik itu semua, ada cerita tentang efisiensi, nilai, dan cara pandang baru terhadap hidup.
Mengapa Gen Z Meninggalkan Banyak Kebiasaan Lama
Perubahan kebiasaan bukan terjadi begitu saja. Gen Z tumbuh dalam dunia yang sudah terkoneksi internet, smartphone, dan media sosial. Mereka tidak mengalami masa panjang tanpa teknologi seperti generasi sebelumnya. Karena itu, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z sering kali berkaitan dengan hal hal yang dianggap tidak efisien, tidak relevan, atau tidak sesuai dengan nilai hidup mereka.
Tekanan ekonomi, biaya hidup tinggi, dan akses informasi yang nyaris tanpa batas membuat gen z lebih kritis terhadap tradisi. Mereka cenderung bertanya “untuk apa?” sebelum mengikuti sebuah kebiasaan. Jika jawabannya tidak jelas, kebiasaan itu perlahan menghilang dari hidup mereka.
> “Gen Z bukan sekadar meninggalkan kebiasaan lama, mereka sedang memilih ulang mana yang benar benar punya nilai untuk hidup mereka.”
1. Telepon Suara Diganti Chat Singkat dan Voice Note
Bagi banyak orang tua, menelepon langsung adalah cara paling wajar untuk berkomunikasi. Namun bagi gen z, panggilan suara justru sering dianggap mengganggu. Kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini terlihat jelas di lingkungan kerja maupun pertemanan. Mereka lebih nyaman mengirim pesan teks, chat singkat, atau voice note yang bisa didengar kapan saja.
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, chat memberi ruang untuk berpikir sebelum menjawab. Kedua, tidak semua orang nyaman berbicara langsung, terutama generasi yang tumbuh dengan budaya online. Ketiga, komunikasi tertulis meninggalkan jejak yang bisa dicek ulang, misalnya untuk urusan pekerjaan atau tugas kuliah.
Di sisi lain, ini memicu keluhan dari generasi lebih tua yang menganggap hubungan menjadi kurang personal. Namun bagi gen z, justru inilah bentuk komunikasi yang paling efisien dan minim tekanan sosial.
2. Belanja di Toko Fisik Tergeser Platform Online
Pergi ke mal atau pasar untuk berbelanja dulu menjadi aktivitas rutin, bahkan hiburan tersendiri. Sekarang, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini tampak dari sepinya beberapa pusat perbelanjaan tradisional, terutama di hari hari biasa. Gen z lebih memilih belanja lewat aplikasi, dari kebutuhan harian hingga barang elektronik.
Faktor utamanya adalah kemudahan dan transparansi harga. Dalam hitungan detik, mereka bisa membandingkan harga dari banyak toko, membaca ulasan, dan melihat rating. Hal ini membuat tawar menawar langsung di pasar terasa kurang relevan. Selain itu, promo dan gratis ongkir menjadi magnet kuat yang sulit disaingi toko offline.
Namun bukan berarti toko fisik mati total. Gen z masih datang ke toko untuk pengalaman mencoba langsung barang tertentu, seperti pakaian atau gadget. Hanya saja, keputusan akhir sering tetap diambil setelah membandingkan harga online. Fenomena ini memaksa pelaku usaha tradisional beradaptasi dengan membuka kanal digital.
3. Menabung di Celengan dan Buku Tabungan Digantikan E Wallet
Generasi sebelumnya akrab dengan celengan, buku tabungan fisik, dan antrian panjang di bank. Kini, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z terlihat dari cara mereka mengelola uang. Dompet digital, mobile banking, dan aplikasi keuangan menjadi alat utama. Uang tunai makin jarang dipegang, kecuali untuk keperluan tertentu.
Bagi gen z, mengatur keuangan lewat aplikasi terasa lebih praktis. Mereka bisa memantau pengeluaran, membayar tagihan, hingga berinvestasi hanya lewat ponsel. Cashback, poin, dan promo juga menjadi insentif tambahan. Celengan fisik kalah menarik dibanding grafik dan notifikasi saldo yang terus bergerak di layar.
Di sisi lain, ini menimbulkan kekhawatiran tentang kontrol diri. Transaksi yang terlalu mudah membuat sebagian anak muda kesulitan menahan belanja impulsif. Namun, banyak juga yang memanfaatkan aplikasi untuk belajar budgeting, mencatat pengeluaran, dan mulai berinvestasi sejak dini.
4. Surat dan Kartu Ucapan Digantikan Pesan Instan
Surat tulisan tangan dulu menjadi medium istimewa untuk menyampaikan pesan penting, ucapan selamat, atau ungkapan perasaan. Kini, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini nyaris tinggal kenangan di kehidupan sehari hari. Ucapan ulang tahun, selamat wisuda, bahkan ucapan duka, sering kali dikirim lewat chat, DM, atau unggahan di media sosial.
Kecepatan dan kemudahan menjadi alasan utama. Tidak perlu membeli kartu, perangko, atau pergi ke kantor pos. Dalam hitungan detik, pesan bisa sampai ke orang yang berada di kota atau negara lain. Ditambah lagi, format digital memungkinkan penggunaan foto, video, hingga stiker yang dianggap lebih ekspresif.
Namun, sebagian kecil gen z justru menghidupkan kembali surat fisik sebagai sesuatu yang unik dan personal. Bukan sebagai kebiasaan rutin, melainkan sebagai momen spesial yang justru terasa berbeda di tengah dominasi pesan digital.
5. Menonton TV Konvensional Beralih ke Streaming dan Konten Pendek
Televisi dulu menjadi sumber utama hiburan dan informasi. Jadwal tayang acara menjadi patokan waktu keluarga. Sekarang, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini terlihat dari sepinya generasi muda di depan TV ruang tamu. Mereka lebih sering menonton lewat platform streaming, YouTube, atau konten pendek di ponsel.
Gen z terbiasa dengan kebebasan memilih. Mereka tidak ingin menunggu jam tayang tertentu. Semua harus bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Selain itu, algoritma platform digital menyajikan konten yang disesuaikan dengan minat masing masing, sesuatu yang tidak dimiliki TV konvensional.
Perubahan ini juga menggeser cara mereka mengonsumsi berita. Banyak yang tidak lagi menonton berita malam di televisi, melainkan membaca ringkasan di media sosial, portal berita online, atau menonton potongan video pendek. Ini membuat informasi bergerak lebih cepat, tetapi juga menuntut kemampuan menyaring berita hoaks.
6. Jam Kerja Kaku Bergeser ke Fleksibilitas Waktu dan Lokasi
Konsep bekerja dari pukul 9 hingga 5 di kantor fisik selama lima hari seminggu mulai kehilangan daya tarik di mata gen z. Kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z dalam dunia kerja ini dipengaruhi pengalaman pandemi, munculnya pekerjaan remote, dan berkembangnya ekonomi kreatif.
Banyak anak muda yang kini memprioritaskan fleksibilitas. Mereka mencari pekerjaan yang memungkinkan kerja jarak jauh, jam kerja luwes, atau sistem hybrid. Bagi mereka, yang penting adalah hasil, bukan sekadar hadir secara fisik di kantor. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering mengaitkan profesionalisme dengan kehadiran dan jam kerja panjang.
Perusahaan pun perlahan menyesuaikan diri. Ruang kerja bersama, sistem kerja berbasis proyek, dan kolaborasi lintas kota atau negara menjadi hal biasa. Namun, tidak sedikit juga perusahaan yang masih berpegang pada pola lama, sehingga menimbulkan benturan ekspektasi antara manajemen dan karyawan muda.
7. Gaya Hidup Serba Kepemilikan Diganti Akses dan Berbagi
Jika dulu kepemilikan dianggap simbol kesuksesan, mulai dari rumah, mobil, hingga koleksi barang, gen z menunjukkan kecenderungan berbeda. Kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini cukup mengejutkan banyak pihak. Mereka tidak terlalu terobsesi memiliki semuanya sendiri. Aplikasi sewa, pinjam, atau berbagi menjadi pilihan.
Contohnya, menggunakan ojek online dan car sharing dibanding membeli mobil pribadi, menyewa kost atau apartemen kecil dibanding memaksakan kredit rumah jangka panjang, hingga menyewa pakaian untuk acara tertentu. Bagi gen z, yang penting adalah akses, bukan status kepemilikan.
Alasan ekonominya jelas. Harga properti dan kendaraan melonjak jauh dibanding pendapatan rata rata anak muda. Namun di balik itu, ada juga perubahan nilai. Mereka lebih menghargai pengalaman, perjalanan, dan kebebasan bergerak, ketimbang terikat cicilan panjang.
> “Di mata banyak anak muda, hidup bukan lagi tentang seberapa banyak barang yang dimiliki, tetapi seberapa leluasa mereka mengatur langkah sendiri.”
8. Formalitas Berpakaian Tergusur Gaya Kasual dan Fungsional
Dasi, sepatu pantofel mengkilap, dan setelan resmi dulu menjadi standar berpakaian di banyak kantor dan acara penting. Sekarang, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini terlihat dari maraknya gaya kasual bahkan di lingkungan profesional tertentu. Kemeja diganti kaus polo, sepatu kulit digantikan sneakers, dan blazer dipakai hanya di momen tertentu.
Gen z cenderung mengutamakan kenyamanan dan ekspresi diri. Mereka melihat pakaian bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga bagian dari identitas. Di banyak perusahaan rintisan, aturan berpakaian sangat longgar selama tetap sopan. Ini berbeda dengan kantor konvensional yang masih memegang teguh standar formal.
Meski begitu, gen z tetap mampu menyesuaikan diri saat dibutuhkan. Untuk presentasi penting, wawancara kerja, atau acara resmi, mereka tetap bisa tampil rapi. Hanya saja, mereka tidak lagi melihat pakaian formal sebagai sesuatu yang wajib dipakai setiap hari.
9. Pertemuan Tatap Muka Rutin Digantikan Komunitas Online
Dulu, bergabung dengan komunitas berarti hadir secara fisik di pertemuan rutin, entah itu karang taruna, klub olahraga, atau organisasi hobi. Kini, kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini tergambar dari kuatnya komunitas online. Grup chat, forum, dan server digital menjadi tempat berkumpul utama.
Gen z bisa menjadi bagian dari beberapa komunitas sekaligus, dari berbagai kota bahkan negara, tanpa pernah bertemu langsung. Mereka berdiskusi, berbagi karya, bermain gim bersama, hingga merencanakan proyek kolaborasi secara virtual. Identitas komunitas dibangun lewat avatar, username, dan interaksi harian di layar.
Meski begitu, bukan berarti mereka anti bertemu langsung. Justru, banyak komunitas online yang kemudian mengadakan kopi darat sebagai acara spesial. Bedanya, titik awal hubungan kini sering terjadi di dunia digital, bukan sebaliknya.
10. Pola Karier Linear Diganti Jalur Berliku dan Multitalenta
Generasi sebelumnya cenderung mengikuti pola karier yang lebih linear. Lulus sekolah, bekerja di satu bidang, naik jabatan, dan bertahan lama di satu perusahaan. Kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z ini tampak dari kecenderungan mereka untuk berpindah pekerjaan, mencoba berbagai bidang, bahkan memiliki beberapa sumber penghasilan sekaligus.
Freelance, kerja paruh waktu, proyek kreatif, hingga usaha kecil kecilan dijalankan bersamaan. Gelar pendidikan tidak lagi menjadi satu satunya penentu jalur karier. Banyak gen z yang belajar keterampilan baru secara otodidak lewat kursus online, video tutorial, dan komunitas digital.
Mereka melihat karier sebagai perjalanan eksplorasi, bukan satu garis lurus yang harus diikuti tanpa pertanyaan. Hal ini membuat mereka lebih adaptif, tetapi juga kadang dianggap kurang loyal oleh perusahaan yang masih memegang pola lama.
Kebiasaan Lama yang Ditinggalkan Gen Z dan Tantangan Antar Generasi
Pergeseran kebiasaan ini memunculkan jarak pemahaman antar generasi. Orang tua dan atasan di kantor kadang merasa bingung menghadapi kebiasaan lama yang ditinggalkan gen z, mulai dari cara berkomunikasi hingga cara bekerja. Sebaliknya, gen z sering merasa tidak dipahami ketika nilai nilai baru mereka dianggap sebagai bentuk kemalasan atau ketidakpatuhan.
Namun jika dilihat lebih dalam, banyak kebiasaan baru gen z justru lahir dari kebutuhan beradaptasi dengan dunia yang lebih cepat, mahal, dan kompetitif. Mereka mencari cara untuk tetap bertahan, sekaligus menjaga kesehatan mental dan ruang pribadi. Di titik ini, dialog antar generasi menjadi penting agar perubahan kebiasaan tidak selalu dibaca sebagai konflik, melainkan sebagai bagian dari evolusi cara hidup.


Comment