Lifestyle
Home / Lifestyle / Survei Ungkap Kecemasan Finansial Gen Z Milenial di 44 Negara

Survei Ungkap Kecemasan Finansial Gen Z Milenial di 44 Negara

Kecemasan finansial gen Z milenial kini bukan lagi isu pinggiran, tetapi telah menjelma menjadi fenomena global yang terekam jelas dalam berbagai survei lintas negara. Di 44 negara, pola kekhawatiran yang sama muncul: generasi muda produktif merasa masa depan keuangan mereka rapuh, sulit diprediksi, dan penuh ketidakpastian. Dari beban utang, biaya hidup yang melonjak, hingga tekanan sosial di media digital, semua berkelindan membentuk rasa cemas yang terus mengintai, bahkan ketika mereka sudah memiliki pekerjaan tetap.

Gelombang Kecemasan Finansial Gen Z Milenial di 44 Negara

Laporan lembaga riset internasional yang mencakup 44 negara menunjukkan bahwa kecemasan finansial gen Z milenial mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak negara, dua dari tiga responden di kelompok usia ini mengaku memikirkan uang hampir setiap hari, bukan dalam konteks investasi atau perencanaan, melainkan dalam bentuk kekhawatiran tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan target hidup.

Survei ini mengungkap bahwa mayoritas responden gen Z dan milenial merasa tertinggal dibanding generasi sebelumnya. Mereka menilai orang tua mereka relatif lebih mudah membeli rumah, membiayai pendidikan, dan membangun tabungan, sementara mereka sendiri harus berjuang di tengah harga properti yang melambung, biaya pendidikan tinggi, dan persaingan kerja yang makin ketat.

Di negara berkembang, kecemasan kian menajam ketika dikaitkan dengan stabilitas ekonomi dan politik. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan, pelemahan mata uang, dan inflasi yang menggerus daya beli membuat banyak anak muda merasa “berjalan di atas lantai yang retak”, di mana setiap guncangan ekonomi bisa menjatuhkan mereka ke jurang kesulitan finansial.

> “Bagi banyak anak muda, kecemasan soal uang bukan sekadar takut miskin, tetapi takut tidak pernah mencapai standar hidup yang selama ini digambarkan sebagai normal.”

Keluhan Perempuan Selama Ramadan yang Sering Diabaikan

Akar Kecemasan Finansial Gen Z Milenial yang Jarang Dibahas

Sebelum menilai generasi ini sebagai boros atau tidak realistis, perlu ditelusuri akar penyebab kecemasan finansial gen Z milenial yang muncul secara serentak di berbagai belahan dunia. Survei lintas negara memperlihatkan pola serupa, tetapi tiap wilayah memiliki nuansa berbeda yang memperkuat rasa khawatir itu.

Tekanan Biaya Hidup dan Utang Pendidikan

Salah satu faktor kunci kecemasan finansial gen Z milenial adalah tekanan biaya hidup yang naik lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Di banyak kota besar dunia, biaya sewa tempat tinggal menghabiskan porsi besar gaji, sementara biaya transportasi, makanan, dan layanan kesehatan juga terus merangkak naik.

Di sejumlah negara, utang pendidikan menjadi sumber kecemasan yang sangat dominan. Generasi muda lulus kuliah dengan beban pinjaman yang besar, lalu memasuki pasar kerja yang tidak selalu menawarkan gaji setimpal. Kombinasi cicilan utang, biaya hidup, dan tuntutan menabung membuat mereka merasa selalu tertinggal, meski sudah berhemat.

Kondisi ini memunculkan perasaan “terkunci” secara finansial. Banyak gen Z dan milenial yang menunda membeli rumah, menikah, atau memiliki anak karena merasa belum cukup aman secara keuangan. Keputusan hidup besar berubah menjadi perhitungan angka, bukan lagi sekadar pilihan personal.

Pasar Kerja yang Penuh Ketidakpastian

Selain biaya hidup, dunia kerja yang berubah cepat turut memperkuat kecemasan finansial gen Z milenial. Kontrak kerja jangka pendek, sistem kerja lepas, dan otomatisasi membuat rasa aman bekerja menurun drastis. Di banyak negara, pekerjaan tetap dengan tunjangan lengkap semakin langka, digantikan model kerja fleksibel yang sering kali berarti pendapatan tidak menentu.

AI untuk Atur Keuangan Cara Aman dan Cerdas!

Survei di 44 negara menunjukkan banyak responden muda merasa karier mereka dibangun di atas pondasi yang rapuh. Mereka khawatir satu krisis ekonomi saja bisa menghapus pekerjaan dan menunda kemajuan finansial selama bertahun-tahun. Pandemi beberapa tahun lalu menjadi bukti nyata bahwa kekhawatiran itu bukan sekadar imajinasi.

Kecemasan ini diperparah oleh kecepatan perubahan keterampilan yang dibutuhkan. Generasi muda dituntut terus belajar dan beradaptasi, namun biaya pelatihan dan pendidikan tambahan tidak murah. Ketakutan tertinggal secara kompetensi berkelindan dengan ketakutan tertinggal secara finansial.

Budaya Konsumsi Digital dan Tekanan Sosial

Di era media sosial, kecemasan finansial gen Z milenial juga dipicu oleh paparan gaya hidup yang tampak serba mewah dan mudah. Foto liburan, barang bermerek, hingga pencapaian karier orang lain membuat standar “hidup normal” bergeser jauh ke atas. Perbandingan sosial menjadi tidak terhindarkan, dan banyak anak muda merasa hidup mereka selalu kurang.

Fenomena ini melahirkan dua sisi yang saling bertentangan. Di satu sisi, ada dorongan untuk mengikuti tren dan gaya hidup yang sedang populer. Di sisi lain, ada rasa bersalah dan cemas ketika menyadari kondisi rekening tidak mampu menopang semua itu. Akhirnya, sebagian memilih menggunakan kartu kredit atau pinjaman online, yang justru menambah lapisan kecemasan baru.

> “Media sosial membuat jarak antara keinginan dan kemampuan finansial terasa seperti jurang yang setiap hari kita tatap dari tepi.”

Diet Selama Ramadan Turun BB Tanpa Sengsara!

Cara Gen Z Milenial Menghadapi Kecemasan Finansial Gen Z Milenial

Di tengah tekanan yang besar, tidak sedikit gen Z dan milenial yang berusaha mengambil kendali. Survei di 44 negara juga mencatat munculnya berbagai strategi bertahan dan adaptasi baru. Kecemasan finansial gen Z milenial tidak selalu berujung pada keputusasaan, tetapi juga memicu gelombang kesadaran baru tentang pentingnya literasi keuangan dan perencanaan jangka panjang.

Kebangkitan Minat pada Literasi dan Perencanaan Keuangan

Satu tren yang menonjol adalah meningkatnya minat generasi muda terhadap literasi keuangan. Mereka mencari informasi tentang cara mengelola gaji, menabung, hingga investasi melalui kanal digital, podcast, dan kelas daring. Banyak yang mulai mencatat pengeluaran, membuat anggaran bulanan, serta memisahkan rekening untuk kebutuhan dan tabungan.

Di beberapa negara, muncul komunitas anak muda yang saling berbagi tips mengatur uang, dari cara hidup minimalis, strategi menekan pengeluaran, hingga memanfaatkan instrumen investasi sederhana. Mereka mungkin masih cemas, tetapi setidaknya berusaha tidak lagi berjalan dalam kegelapan finansial.

Meski demikian, tidak semua informasi yang beredar akurat. Di sinilah tantangan baru muncul. Konten keuangan yang menjanjikan kaya cepat atau keuntungan besar tanpa risiko dapat menjerumuskan mereka ke produk berisiko tinggi. Kecemasan finansial bisa berubah menjadi keputusan impulsif yang merugikan jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai.

Mencari Sumber Pendapatan Tambahan

Strategi lain yang banyak ditempuh adalah mencari pendapatan sampingan. Gen Z dan milenial relatif lebih terbuka terhadap konsep kerja ganda, baik melalui freelance, usaha kecil, maupun aktivitas ekonomi digital. Dari berjualan daring, menjadi kreator konten, hingga mengerjakan proyek lepas lintas negara, semua diupayakan untuk menambah ruang bernapas finansial.

Survei menunjukkan bahwa di sejumlah negara, proporsi anak muda yang memiliki lebih dari satu sumber penghasilan meningkat signifikan. Mereka tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan utama, karena menyadari rapuhnya stabilitas karier di era sekarang.

Namun, sisi lain dari tren ini adalah kelelahan. Jam kerja yang panjang, batas waktu yang ketat, dan tekanan produktivitas membuat keseimbangan hidup terganggu. Kecemasan finansial memang sedikit teredam ketika pendapatan bertambah, tetapi muncul risiko lain berupa kelelahan mental dan fisik yang bisa berujung pada masalah kesehatan jangka panjang.

Menunda Target Hidup Tradisional

Realitas ekonomi yang berat juga mendorong gen Z dan milenial mengubah cara memandang tahapan hidup. Menikah, membeli rumah, atau memiliki anak yang dulu dianggap sebagai target di usia tertentu, kini banyak yang menundanya. Keputusan ini bukan semata pilihan gaya hidup, melainkan respons terhadap kecemasan finansial gen Z milenial yang membuat mereka enggan mengambil tanggung jawab ekonomi tambahan.

Survei di banyak negara menunjukkan peningkatan jumlah responden muda yang menyatakan belum siap secara finansial untuk berkeluarga atau berkomitmen pada cicilan jangka panjang. Mereka lebih memilih menyewa tempat tinggal, berbagi biaya dengan teman sekamar, atau tinggal lebih lama dengan orang tua untuk menghemat pengeluaran.

Perubahan ini memicu pergeseran struktur sosial dan ekonomi, mulai dari pola konsumsi hingga kebijakan perumahan. Di beberapa kota, pengembang mulai merespons dengan menyediakan hunian sewa jangka menengah dan ruang tinggal bersama yang menargetkan anak muda yang belum siap membeli rumah.

Apa yang Dibutuhkan untuk Meredakan Kecemasan Finansial Gen Z Milenial

Fenomena kecemasan finansial gen Z milenial yang terekam di 44 negara menunjukkan bahwa ini bukan masalah individu semata, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan respons lebih luas. Generasi muda berusaha bertahan dengan berbagai cara, tetapi tanpa perubahan di level kebijakan dan sistem, kecemasan ini berpotensi menjadi beban berkepanjangan bagi masyarakat.

Dibutuhkan upaya serius untuk memperkuat perlindungan pekerja muda, memperluas akses pendidikan dengan biaya yang lebih terjangkau, serta mendorong sistem keuangan yang tidak memerangkap mereka dalam utang konsumtif. Di sisi lain, literasi keuangan perlu dirancang agar relevan dengan realitas gen Z dan milenial, bukan sekadar teori menabung, tetapi juga cara menghadapi ketidakpastian, mengelola risiko, dan membangun rasa aman finansial secara bertahap.

Pada akhirnya, kecemasan finansial gen Z milenial adalah cermin dari ketidakseimbangan antara ekspektasi dan kesempatan. Generasi yang tumbuh dengan janji bahwa kerja keras akan berbuah kesejahteraan kini berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak meminta hidup mewah, sebagian besar hanya ingin merasa aman, tidak dikejar ketakutan setiap kali membuka aplikasi perbankan atau membaca berita ekonomi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *