Lifestyle
Home / Lifestyle / Keluhan Perempuan Selama Ramadan yang Sering Diabaikan

Keluhan Perempuan Selama Ramadan yang Sering Diabaikan

keluhan perempuan selama ramadan
keluhan perempuan selama ramadan

Di balik suasana religius dan kekhusyukan ibadah, ada sisi lain Ramadan yang jarang disorot, yaitu keluhan perempuan selama ramadan yang kerap dianggap wajar, bahkan sering diabaikan. Mulai dari beban kerja domestik yang berlipat, tuntutan sosial keluarga besar, hingga perubahan fisik dan emosional karena pola makan dan tidur yang berubah drastis, banyak perempuan menjalani Ramadan dengan kelelahan berlapis yang tidak selalu terlihat di permukaan. Di ruang publik, narasi yang muncul sering hanya soal menu sahur dan buka puasa, sementara suara perempuan yang menjadi penggerak utama di dapur, rumah, dan pengasuhan, tenggelam di antara piring dan panci.

Ramadan idealnya menjadi momen menenangkan jiwa, tetapi bagi sebagian perempuan, justru menjadi bulan dengan ritme paling melelahkan dalam setahun. Di satu sisi mereka ingin fokus beribadah, di sisi lain tuntutan sebagai istri, ibu, anak, pekerja, dan anggota keluarga besar datang bersamaan tanpa kompromi. Di sinilah banyak keluhan tidak pernah benar benar mendapatkan ruang untuk dibicarakan, apalagi dicarikan solusi bersama.

Beban Ganda di Dapur dan Rumah Tangga

Banyak rumah tangga menjadikan Ramadan sebagai ajang “festival makanan” harian. Ironisnya, semakin istimewa menu yang diharapkan, semakin berat beban kerja perempuan di dapur. Keluhan perempuan selama ramadan pada bagian ini sering dianggap sebagai “resiko biasa” menjadi istri atau ibu, seakan lelah fisik dan mental mereka hanyalah bumbu pelengkap suasana puasa.

Sejak sebelum azan subuh, banyak perempuan sudah bangun untuk menyiapkan sahur. Setelah itu mereka masih harus membereskan rumah, mengurus anak, mungkin bekerja dari rumah atau di kantor, lalu menjelang sore kembali berkutat di dapur demi menyiapkan hidangan berbuka. Siklus ini berulang setiap hari selama sebulan penuh. Jika di hari biasa beban kerja domestik sudah berat, di Ramadan beban itu bisa meningkat dua kali lipat.

Di banyak keluarga, standar “hidangan Ramadan” juga tidak main main. Harus ada takjil, makanan utama, kadang ditambah kue kue manis atau minuman spesial. Keinginan ini sah sah saja, tetapi ketika semua diletakkan di pundak satu orang, biasanya perempuan, ketimpangan mulai terasa. Lelah fisik, pegal, kurang tidur, hingga emosi yang mudah tersulut adalah konsekuensi yang sering tidak diakui secara serius.

Survei Ungkap Kecemasan Finansial Gen Z Milenial di 44 Negara

> “Ramadan seharusnya jadi bulan menenangkan, tapi bagi banyak perempuan justru berubah menjadi maraton kerja domestik tanpa garis finis yang jelas.”

Kurangnya pembagian tugas di rumah membuat keluhan ini terus berulang dari tahun ke tahun. Perempuan yang mengeluh sering dianggap kurang ikhlas, kurang sabar, atau kurang bersyukur. Padahal, mengakui lelah bukan berarti tidak menghormati Ramadan, melainkan pengingat bahwa ibadah juga menuntut keadilan dalam pembagian peran.

Keluhan Perempuan Selama Ramadan di Balik Tradisi Keluarga

Di banyak daerah, tradisi keluarga selama Ramadan sangat kuat. Mulai dari buka puasa bersama keluarga besar, acara memasak massal, hingga persiapan menyambut malam malam tertentu. Di balik suasana hangat itu, keluhan perempuan selama ramadan semakin menumpuk karena mereka menjadi motor yang menggerakkan hampir semua persiapan.

Saat keluarga besar berkumpul, dapur biasanya menjadi pusat aktivitas. Tetapi jika diperhatikan, siapa yang paling banyak berdiri di dapur, mencuci piring, memotong bahan makanan, dan membereskan meja setelah semua kenyang? Jawabannya hampir selalu sama perempuan. Para tamu laki laki bisa beristirahat, mengobrol, atau pergi ke masjid, sementara banyak perempuan masih berkutat dengan peralatan makan dan tumpukan panci.

Beban ini bukan hanya soal tenaga, tetapi juga soal ekspektasi sosial. Jika seorang perempuan tidak sigap di dapur, ia bisa dinilai kurang menghormati tamu atau keluarga besar. Jika ia berani berkata lelah, bisa muncul komentar bahwa Ramadan hanya sebulan, “masa begitu saja mengeluh.” Inilah yang membuat banyak perempuan memilih diam, menyimpan keluhan dalam hati, dan menjalani Ramadan dengan tubuh dan pikiran yang makin terkuras.

AI untuk Atur Keuangan Cara Aman dan Cerdas!

Puasa, Siklus Menstruasi, dan Kesehatan Tubuh

Selain urusan domestik, keluhan perempuan selama ramadan juga sangat terkait dengan kondisi biologis yang khas perempuan, terutama soal menstruasi dan kesehatan reproduksi. Topik ini sering dianggap sensitif, sehingga jarang dibicarakan terbuka, padahal dampaknya nyata terhadap kenyamanan dan kesehatan perempuan selama Ramadan.

Menstruasi membuat perempuan memiliki pengalaman berpuasa yang berbeda. Mereka harus berhenti puasa di hari hari tertentu, mengganti di lain waktu, sekaligus menghadapi rasa nyeri, kram, lemas, atau perubahan mood. Di tengah idealisasi Ramadan sebagai bulan penuh energi spiritual, perempuan yang sedang haid kadang merasa terpinggirkan, seolah ibadah mereka berkurang nilainya hanya karena tidak berpuasa dan tidak salat.

Keluhan Perempuan Selama Ramadan Saat Menstruasi

Di sini, keluhan perempuan selama ramadan muncul dalam beberapa bentuk. Pertama, tekanan batin karena merasa “tidak utuh” berpuasa. Meski secara agama jelas bahwa perempuan haid tidak diwajibkan berpuasa, tekanan sosial dan pandangan sebagian orang yang kurang memahami bisa membuat perempuan merasa bersalah. Ada yang memilih pura pura tetap berpuasa di depan keluarga besar agar tidak ditanya, tidak dicurigai, atau tidak dijadikan bahan obrolan.

Kedua, keluhan fisik yang sering diremehkan. Nyeri haid yang berat, pusing, lemas, dan ketidaknyamanan tubuh sering hanya dianggap “biasa.” Padahal, ketika digabung dengan kurang tidur karena sahur, aktivitas domestik yang tinggi, dan mungkin juga pekerjaan di luar rumah, kondisi ini bisa sangat menguras energi. Perempuan yang sedang haid tetap tetap dituntut menyiapkan sahur dan berbuka untuk anggota keluarga lain yang berpuasa, walau tubuh mereka sendiri sedang tidak dalam kondisi terbaik.

Ketiga, persoalan mengganti puasa di luar Ramadan. Bagi perempuan dengan siklus haid panjang, jumlah hari puasa yang harus diganti bisa cukup banyak. Ini membutuhkan perencanaan, tenaga, dan kadang berhadapan dengan cuaca yang berbeda, misalnya saat mengganti puasa di musim panas atau ketika sedang banyak tugas pekerjaan. Keluhan ini jarang menjadi perhatian bersama, seolah menjadi urusan pribadi perempuan yang harus diselesaikan sendiri.

Diet Selama Ramadan Turun BB Tanpa Sengsara!

> “Tubuh perempuan tidak berhenti bekerja hanya karena datang bulan Ramadan. Justru di bulan ini, tuntutan pada tubuh mereka sering meningkat tanpa pertimbangan yang memadai.”

Tekanan Emosional dan Standar “Perempuan Ideal” di Bulan Puasa

Selain fisik, keluhan perempuan selama ramadan juga banyak berkaitan dengan tekanan emosional dan standar sosial yang menempel kuat. Di banyak lingkungan, perempuan diharapkan tampil sabar, lembut, teratur, dan selalu siap melayani kebutuhan keluarga selama Ramadan. Mereka harus kuat secara fisik, stabil secara emosi, dan tetap rapi secara penampilan, seolah tidak boleh menunjukkan lelah atau marah.

Ramadan sering dijadikan momen untuk menilai “keberhasilan” perempuan dalam mengelola rumah tangga. Rumah harus bersih, makanan harus cukup dan variatif, anak anak diharapkan tertib berpuasa, suami merasa nyaman sepulang kerja atau tarawih. Jika ada yang tidak berjalan mulus, perempuan kerap menjadi pihak pertama yang disorot. Tekanan ini menumpuk dan bisa menimbulkan rasa cemas, mudah tersinggung, hingga kelelahan mental.

Keluhan Perempuan Selama Ramadan di Ruang Kerja dan Ruang Publik

Bagi perempuan yang bekerja di luar rumah, keluhan perempuan selama ramadan bertambah lagi. Mereka harus membagi energi antara pekerjaan profesional dan pekerjaan domestik. Di kantor, mereka tetap dituntut produktif meski tidur berkurang dan jadwal makan berubah. Di rumah, mereka tetap ditunggu dapur, cucian, dan anak anak yang butuh perhatian.

Di ruang kerja, tidak semua atasan atau rekan memahami situasi ini. Ada yang menganggap semua orang sama sama berpuasa, sehingga tidak perlu perlakuan khusus. Padahal, banyak perempuan menjalani puasa dengan beban ganda yang tidak dialami rekan laki laki. Misalnya, perempuan yang harus bangun paling pagi untuk menyiapkan sahur, lalu tetap berangkat kerja dalam kondisi mengantuk dan lelah, sementara anggota keluarga lain bisa kembali tidur setelah makan.

Di ruang publik, standar moral juga kerap lebih ketat pada perempuan. Cara berpakaian, cara berbicara, hingga aktivitas di luar rumah selama Ramadan lebih sering dipantau dan diomentari jika dilakukan perempuan. Mereka bisa mendapat penilaian negatif lebih cepat, sementara ruang untuk memahami kondisi mereka sangat sempit. Ini menambah tekanan psikologis di bulan yang seharusnya menjadi ruang refleksi dan ketenangan batin.

Harapan Perubahan dari Rumah dan Lingkungan Terdekat

Meski banyak keluhan perempuan selama ramadan yang terabaikan, peluang perubahan sebenarnya bisa dimulai dari lingkaran paling kecil, yaitu rumah dan keluarga. Tanpa menunggu kebijakan besar atau kampanye luas, pembagian peran yang lebih adil dan sikap saling mendengar bisa membuat pengalaman Ramadan menjadi jauh lebih manusiawi bagi perempuan.

Keluarga bisa mulai dengan membicarakan ulang ekspektasi terhadap perempuan selama Ramadan. Apakah benar setiap hari harus ada hidangan lengkap dan rumit Jika menu disederhanakan, apakah nilai Ramadan berkurang Anak dan suami bisa diajak terlibat aktif menyiapkan sahur dan berbuka, mencuci piring, atau membereskan rumah. Bukan sebagai “bantuan,” tetapi sebagai tanggung jawab bersama.

Lingkungan sosial juga punya peran. Dalam acara buka puasa bersama, panitia bisa memastikan tugas dapur dan logistik tidak hanya dibebankan kepada perempuan. Di tempat kerja, pimpinan bisa lebih peka terhadap beban ganda yang dialami pegawai perempuan, misalnya dengan pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel atau budaya rapat yang tidak terlalu larut.

Yang paling penting, keluhan perempuan selama ramadan perlu diberi ruang untuk diucapkan tanpa rasa bersalah. Perempuan berhak mengatakan lelah, berhak meminta bantuan, dan berhak didengar tanpa dihakimi kurang sabar atau kurang ikhlas. Mengakui beban yang mereka tanggung bukanlah bentuk merendahkan nilai Ramadan, tetapi justru langkah untuk menghidupkan semangat keadilan dan kasih sayang yang menjadi inti bulan suci ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *