Lifestyle
Home / Lifestyle / 11 Pasien yang Dianjurkan Tidak Puasa, Dokter Ungkap Risikonya

11 Pasien yang Dianjurkan Tidak Puasa, Dokter Ungkap Risikonya

pasien yang dianjurkan tidak puasa
pasien yang dianjurkan tidak puasa

Bulan puasa sering kali dipandang sebagai momen ibadah yang ingin dijalani semua orang tanpa terkecuali, termasuk mereka yang sedang sakit. Namun, tidak semua kondisi kesehatan aman untuk berpuasa. Ada kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa karena risikonya terhadap nyawa dan kualitas hidup jauh lebih besar dibanding manfaat ibadahnya. Dokter dari berbagai disiplin ilmu menegaskan, keputusan untuk tetap berpuasa atau tidak harus mempertimbangkan kondisi medis secara serius, bukan sekadar keinginan atau tekanan sosial.

“Memaksa diri berpuasa saat kondisi medis jelas tidak memungkinkan bukan lagi soal pahala, melainkan soal keselamatan yang sedang dipertaruhkan.”

Siapa Saja Pasien yang Dianjurkan Tidak Puasa Menurut Dokter

Pembahasan tentang pasien yang dianjurkan tidak puasa tidak bisa dilepaskan dari penilaian medis yang menyeluruh. Dokter biasanya menilai dari tingkat keparahan penyakit, stabil tidaknya kondisi, serta risiko komplikasi bila pasien menahan makan dan minum selama berjam jam.

Di bawah ini adalah 11 kelompok pasien yang paling sering dianjurkan dokter untuk tidak berpuasa, beserta penjelasan risikonya.

1. Pasien Gagal Ginjal Kronis Termasuk Pasien yang Dianjurkan Tidak Puasa

Pasien gagal ginjal kronis, terutama yang sudah berada pada stadium lanjut, adalah salah satu kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa. Ginjal mereka sudah tidak mampu bekerja optimal menyaring racun dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh.

10 Kebiasaan Lama yang Ditinggalkan Gen Z, Nomor 7 Bikin Kaget

Saat berpuasa, asupan cairan berkurang drastis selama belasan jam. Kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi, penumpukan racun, gangguan elektrolit, hingga penurunan fungsi ginjal yang lebih parah. Pada pasien yang menjalani hemodialisis atau cuci darah, jadwal dan pola minum sangat ketat dan tidak bisa sembarangan diubah.

Dokter nefrologi umumnya akan sangat berhati hati dan sering kali melarang puasa bagi pasien gagal ginjal stadium lanjut, terutama bila masih sering sesak, bengkak, atau tekanan darahnya tidak stabil. Pada stadium awal, keputusan bisa lebih fleksibel, tetapi tetap harus dalam pengawasan ketat.

2. Pasien Diabetes Tidak Terkontrol yang Dianjurkan Tidak Puasa

Diabetes menjadi salah satu penyakit yang paling sering dibahas saat memasuki bulan puasa. Tidak semua penderita diabetes dilarang berpuasa, tetapi ada kelompok berisiko tinggi yang termasuk pasien yang dianjurkan tidak puasa, yaitu mereka yang gula darahnya sangat tinggi, sering hipoglikemia, atau menggunakan insulin dengan dosis kompleks.

Berpuasa mengubah pola makan dan jam minum obat. Jika tidak diatur dengan benar, kadar gula darah bisa turun drastis (hipoglikemia) atau melonjak sangat tinggi (hiperglikemia) hingga memicu kondisi gawat darurat seperti ketoasidosis diabetik. Gejalanya bisa berupa lemas berat, pusing, keringat dingin, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Dokter penyakit dalam biasanya akan menilai dari hasil pemeriksaan HbA1c, riwayat gula darah harian, serta ada tidaknya komplikasi seperti gangguan ginjal, saraf, atau jantung. Bila dinilai sangat berisiko, pasien akan disarankan untuk tidak berpuasa dan mengganti dengan ibadah lain sesuai ketentuan agama.

5 Tips Hemat Ramadan agar Dompet Tetap Aman!

3. Pasien Penyakit Jantung Tidak Stabil yang Sebaiknya Tidak Puasa

Pasien penyakit jantung dengan kondisi tidak stabil, seperti gagal jantung berat, angina tidak stabil, atau baru saja mengalami serangan jantung, termasuk dalam kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa. Jantung mereka bekerja keras bahkan saat istirahat, sehingga perubahan kecil pada keseimbangan cairan dan elektrolit dapat berdampak besar.

Berpuasa dapat menyebabkan penurunan asupan cairan dan perubahan tekanan darah. Bila pasien juga mengonsumsi obat diuretik, risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit semakin tinggi. Hal ini bisa memicu sesak berat, nyeri dada, gangguan irama jantung, hingga henti jantung mendadak.

Pasien yang baru menjalani pemasangan stent, operasi bypass, atau perawatan intensif di rumah sakit umumnya akan diminta menunda puasa sampai kondisinya benar benar stabil. Dokter jantung akan menilai dari keluhan harian, hasil ekokardiografi, EKG, dan tes penunjang lain.

4. Pasien Hipertensi Berat yang Masih Sulit Terkontrol

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga menjadi alasan kuat bagi dokter untuk memasukkan seseorang ke dalam kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa. Hipertensi berat yang naik turun dan sering mencapai angka sangat tinggi berpotensi menyebabkan stroke, serangan jantung, atau kerusakan organ lain bila obat tidak diminum teratur.

Perubahan pola makan dan jam minum obat saat puasa dapat membuat pasien lupa atau menunda konsumsi obat. Bila ditambah kurang minum, sirkulasi darah bisa terganggu dan tekanan darah menjadi tidak stabil. Gejala seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, atau lemas mendadak harus diwaspadai.

Jualan Kue Lebaran Pre Order Rahasia Cuan Maksimal!

Bila tekanan darah sudah stabil dengan obat dan gaya hidup sehat, sebagian pasien hipertensi boleh berpuasa dengan pengaturan obat yang disesuaikan. Namun, untuk hipertensi berat yang baru diobati, dokter lebih sering menyarankan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu.

5. Pasien dengan Riwayat Stroke dan Gangguan Saraf Berat

Pasien yang baru mengalami stroke, baik stroke perdarahan maupun stroke iskemik, termasuk pasien yang dianjurkan tidak puasa dalam beberapa waktu tertentu. Pada fase pemulihan awal, otak masih sangat rentan terhadap perubahan tekanan darah, kadar gula, dan aliran darah.

Berpuasa dapat memperburuk kondisi bila pasien kesulitan makan dan minum yang cukup saat sahur dan berbuka, apalagi jika masih ada gangguan menelan. Risiko tersedak, kekurangan nutrisi, dan dehidrasi juga meningkat. Selain itu, obat pengencer darah dan obat saraf harus diminum tepat waktu agar mencegah serangan ulang.

Pada pasien dengan gangguan saraf berat lain, seperti epilepsi tidak terkontrol, berpuasa tanpa pengaturan obat yang tepat dapat meningkatkan risiko kejang. Dokter saraf biasanya akan menilai secara individual, tetapi untuk kondisi yang masih labil, anjuran tidak berpuasa lebih sering diberikan.

6. Pasien Kanker dalam Terapi Intensif

Pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, radioterapi intensif, atau dalam kondisi lemah dan berat badan turun drastis, termasuk kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa. Tubuh mereka membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang cukup untuk melawan penyakit dan menoleransi efek samping pengobatan.

Kemoterapi dapat menyebabkan mual, muntah, diare, dan penurunan nafsu makan. Bila ditambah dengan puasa, risiko dehidrasi dan kekurangan gizi menjadi sangat tinggi. Hal ini bukan hanya memperlambat pemulihan, tetapi juga berpotensi memaksa dokter menunda jadwal terapi karena kondisi pasien terlalu lemah.

Pada beberapa kasus kanker yang sudah stabil atau dalam remisi, dokter mungkin memperbolehkan puasa dengan catatan asupan gizi saat sahur dan berbuka benar benar diperhatikan. Namun, untuk pasien dalam fase aktif pengobatan intensif, anjuran tidak berpuasa umumnya lebih kuat.

7. Pasien dengan Gangguan Lambung Berat dan Sering Kambuh

Penyakit lambung seperti gastritis berat, tukak lambung, atau refluks asam yang sering kambuh juga menjadi perhatian dokter saat membahas pasien yang dianjurkan tidak puasa. Perut kosong terlalu lama dapat memicu produksi asam lambung berlebih, menimbulkan nyeri, mual, hingga muntah darah pada kasus berat.

Obat lambung umumnya diminum beberapa kali sehari dan membutuhkan pola makan yang teratur. Bila pasien memaksakan puasa padahal keluhan masih sering muncul, risiko komplikasi seperti perdarahan saluran cerna meningkat. Gejala seperti nyeri perut hebat, tinja hitam, atau muntah darah harus segera mendapat pertolongan.

Pada penderita maag ringan yang sudah stabil, puasa masih mungkin dilakukan dengan pengaturan pola makan dan obat. Namun, bagi pasien dengan riwayat tukak lambung berat, perdarahan, atau sering masuk rumah sakit karena sakit lambung, dokter sering kali menyarankan untuk tidak berpuasa sampai kondisi benar benar terkendali.

8. Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi dan Kondisi Tertentu

Ibu hamil sebenarnya tidak secara otomatis masuk dalam kategori pasien yang dianjurkan tidak puasa, tetapi ada kondisi khusus yang membuat dokter kandungan menganjurkan untuk tidak berpuasa. Misalnya, kehamilan dengan risiko tinggi seperti preeklamsia, hipertensi dalam kehamilan, diabetes gestasional tidak terkontrol, atau riwayat keguguran berulang.

Janin membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang stabil untuk tumbuh optimal. Bila ibu hamil mengalami dehidrasi, gula darah turun drastis, atau tekanan darah tidak stabil saat puasa, hal ini dapat memengaruhi kondisi janin. Gejala seperti pusing berat, lemas, kontraksi, atau gerakan janin berkurang harus diwaspadai.

Pada kehamilan normal dan sehat, sebagian dokter memperbolehkan puasa dengan pengawasan ketat dan pemantauan berat badan, tekanan darah, serta kondisi janin. Namun, pada kehamilan berisiko tinggi, anjuran untuk tidak berpuasa lebih sering diberikan demi keselamatan ibu dan bayi.

9. Pasien dengan Gangguan Mental Berat yang Masih Tidak Stabil

Pasien dengan gangguan mental berat seperti skizofrenia, bipolar, atau depresi berat yang belum stabil juga dapat termasuk pasien yang dianjurkan tidak puasa. Obat psikiatri biasanya harus diminum secara teratur pada jam tertentu untuk menjaga kestabilan mood dan mencegah kekambuhan gejala.

Perubahan pola tidur, makan, dan jam minum obat saat puasa dapat mengganggu kestabilan ini. Bila pasien sampai lupa minum obat atau mengubah dosis sendiri, risiko kambuh, halusinasi, perilaku agresif, hingga percobaan bunuh diri bisa meningkat. Selain itu, sebagian obat psikiatri dapat menyebabkan efek samping seperti mengantuk, mulut kering, atau penurunan tekanan darah yang perlu diseimbangkan dengan asupan cairan cukup.

Psikiater biasanya akan menilai secara individual. Bila pasien sudah stabil lama dan didukung keluarga yang bisa mengawasi, puasa mungkin diizinkan dengan penyesuaian obat. Namun, untuk kondisi yang baru diobati atau sering kambuh, anjuran tidak berpuasa demi kestabilan kondisi mental sering kali lebih diutamakan.

10. Pasien Pasca Operasi Besar yang Sedang dalam Masa Pemulihan

Mereka yang baru menjalani operasi besar, seperti operasi jantung, operasi perut, atau tindakan ortopedi besar, juga sering dimasukkan dokter ke dalam kelompok pasien yang dianjurkan tidak puasa. Masa pemulihan pasca operasi membutuhkan nutrisi tinggi protein, kalori, dan cairan untuk mempercepat penyembuhan luka dan mencegah infeksi.

Pasien pasca operasi sering mengonsumsi banyak obat, termasuk antibiotik dan obat nyeri, yang harus diminum pada jam tertentu. Bila pasien memaksa puasa, jadwal obat bisa terganggu dan asupan makanan tidak mencukupi. Hal ini dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi seperti infeksi luka, anemia, atau kelemahan berat.

Lama waktu larangan puasa tergantung jenis operasi dan kecepatan pemulihan. Dokter bedah dan dokter anestesi biasanya akan memberikan panduan jelas kapan pasien boleh mempertimbangkan puasa kembali.

11. Pasien Infeksi Berat yang Membutuhkan Cairan dan Obat Intensif

Pasien dengan infeksi berat seperti sepsis, pneumonia berat, atau infeksi saluran kemih yang sudah menyebar ke darah, jelas termasuk pasien yang dianjurkan tidak puasa. Kondisi ini adalah keadaan gawat darurat yang membutuhkan terapi cairan, antibiotik, dan pemantauan ketat, sering kali di rumah sakit.

Tubuh yang sedang melawan infeksi berat membutuhkan energi dan cairan lebih banyak. Demam tinggi menyebabkan banyak cairan hilang melalui keringat dan pernapasan. Bila pasien tidak minum cukup karena berpuasa, kondisi bisa cepat memburuk, tekanan darah turun, dan organ organ vital seperti ginjal dan jantung ikut terdampak.

Bahkan setelah keluar dari rumah sakit, pasien yang baru pulih dari infeksi berat biasanya masih membutuhkan waktu untuk mengembalikan stamina. Dokter penyakit dalam umumnya akan menyarankan untuk menunda puasa sampai benar benar pulih dan kuat menjalani aktivitas harian.

“Bagi pasien dengan penyakit kronis, izin untuk tidak berpuasa bukan bentuk keringanan yang memalukan, melainkan perlindungan agar mereka tetap hidup dan bisa terus beribadah dengan cara lain.”

Pentingnya Konsultasi Dokter bagi Pasien yang Dianjurkan Tidak Puasa

Keputusan masuk atau tidak ke dalam kategori pasien yang dianjurkan tidak puasa tidak boleh dibuat sendiri tanpa dasar medis yang kuat. Setiap orang memiliki kondisi kesehatan yang unik, meski diagnosis penyakitnya sama. Dua pasien dengan diabetes, misalnya, bisa memiliki risiko yang sangat berbeda tergantung kontrol gula darah, obat yang digunakan, dan adanya komplikasi.

Konsultasi langsung dengan dokter menjadi langkah yang wajib dilakukan sebelum memutuskan berpuasa, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis, sedang hamil, baru operasi, atau baru keluar dari perawatan intensif. Dokter dapat menilai risiko, menyesuaikan dosis obat, memberi panduan pola makan, atau dengan tegas menyarankan untuk tidak berpuasa bila risikonya terlalu besar.

Bagi pasien yang dianjurkan tidak puasa, pemahaman bahwa menjaga nyawa dan kesehatan adalah prioritas utama menjadi kunci. Dengan pengawasan medis yang tepat, mereka tetap dapat menjalani ibadah sesuai kemampuan, tanpa mengorbankan keselamatan diri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *