Di tepian sungai berlumpur di wilayah Serawai, Bengkulu, sosok perempuan adat Serawai menjadi pemandangan yang akrab sejak pagi buta. Dengan kaki terbenam di lumpur, punggung tertunduk, dan tangan terampil meraba dasar sungai, mereka mencari remis kerang kecil air tawar yang selama puluhan tahun menjadi penopang hidup keluarga. Bagi banyak keluarga di kampung kampung Serawai, remis bukan sekadar bahan pangan, melainkan sumber nafkah, identitas, dan jejak panjang ketangguhan perempuan.
Jejak Panjang Perempuan Adat Serawai di Sungai Remis
Perempuan adat Serawai sudah sejak lama dikenal sebagai penjaga sungai dan rawa, terutama di wilayah pesisir dan bantaran sungai di Bengkulu bagian selatan. Tradisi turun temurun mengajarkan bahwa sungai bukan hanya tempat mencari makan, tetapi juga ruang sosial, ruang belajar, dan bahkan ruang spiritual. Di sinilah generasi demi generasi perempuan belajar membaca musim, air, dan tanah.
Remis menjadi salah satu simbol keterikatan itu. Kerang kecil yang hidup di dasar sungai berlumpur ini bisa ditemukan di sepanjang aliran sungai yang masih relatif bersih. Aktivitas mencari remis biasanya dimulai sejak air sungai surut, terutama pada pagi hari. Perempuan perempuan adat Serawai berangkat berkelompok, membawa keranjang rotan atau ember plastik, dan menghabiskan berjam jam di air untuk mengumpulkan hasil.
Pekerjaan ini tampak sederhana, tetapi menuntut ketahanan fisik yang besar. Punggung harus terus membungkuk, tangan terendam air dingin, dan kaki menahan pijakan di lumpur yang licin. Namun, di balik gerak yang berulang itu, terjalin percakapan, tawa, dan saling dukung yang menjaga ikatan sosial di antara mereka.
โDi sungai, kami bukan hanya mencari makan, kami juga saling menjaga agar tidak tenggelam oleh hidup yang makin berat,โ begitu sering terdengar dari mulut para perempuan yang pulang dengan keranjang berisi remis.
Tradisi yang Diajarkan dari Ibu ke Anak Perempuan
Dalam komunitas perempuan adat Serawai, pengetahuan tentang remis dan sungai diwariskan secara lisan dan lewat praktik langsung. Anak anak perempuan biasanya mulai ikut ke sungai sejak usia sekolah dasar. Awalnya mereka hanya bermain di tepian, lalu perlahan diajak mencoba meraba dasar lumpur, mengenali tekstur tempat remis bersembunyi, dan membedakan mana yang layak diambil dan mana yang harus dibiarkan tumbuh.
Warisan pengetahuan ini tidak tercatat dalam buku, tetapi tertanam kuat dalam ingatan dan gerak tubuh. Cara berjalan di lumpur agar tidak terperosok, cara menandai titik titik sungai yang kaya remis, hingga cara membaca warna air sebagai tanda musim hujan atau musim kemarau akan datang, semua menjadi bagian dari kearifan lokal yang sulit digantikan.
Perempuan yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari remis sering kali menjadi rujukan di kampung. Mereka dianggap tahu di mana lokasi yang paling subur, kapan saat terbaik turun ke sungai, serta bagaimana menjaga agar sungai tidak rusak. Mereka bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga semacam โarsip hidupโ bagi pengetahuan lokal Serawai.
Perempuan Adat Serawai dan Ekonomi Rumah Tangga dari Remis
Ketergantungan pada remis selama 30 tahun lebih bukan perkara pilihan mudah, melainkan konsekuensi dari keterbatasan akses ekonomi di banyak kampung Serawai. Remis menjadi salah satu sumber pendapatan yang paling mudah dijangkau bagi perempuan, terutama yang tidak memiliki lahan luas atau pendidikan tinggi.
Setiap hari, seorang perempuan adat Serawai bisa mengumpulkan beberapa kilogram remis, tergantung musim dan kondisi sungai. Remis itu dijual ke pasar tradisional atau kepada pengepul yang datang ke kampung. Harga remis relatif rendah dan fluktuatif, sehingga penghasilan harian tidak selalu pasti. Namun, bagi banyak keluarga, uang dari remis itulah yang menutupi kebutuhan beras, biaya sekolah anak, dan keperluan rumah tangga lain.
Selain dijual mentah, sebagian perempuan mengolah remis menjadi makanan siap santap. Remis dimasak dengan santan, ditumis pedas, atau dijadikan campuran sayur dan lauk khas Serawai. Ada juga yang mencoba mengemasnya sebagai produk olahan rumahan untuk dijual ke luar daerah, meski masih terbatas dan terkendala modal serta akses pasar.
Bagi perempuan yang sudah 30 tahun lebih menggantungkan hidup dari remis, pekerjaan ini memberikan rasa bangga sekaligus cemas. Bangga karena dari kerang kecil di sungai, mereka bisa menyekolahkan anak hingga tamat SMA bahkan perguruan tinggi. Cemas karena kondisi sungai tidak lagi seaman dulu, dan hasil tangkapan perlahan menurun.
Sungai yang Berubah dan Kegelisahan di Balik Keranjang Remis
Perubahan lingkungan dalam dua hingga tiga dekade terakhir sangat dirasakan oleh perempuan adat Serawai. Sungai yang dulu jernih dan penuh hayat kini mulai keruh dan dangkal di beberapa titik. Alih fungsi lahan di hulu, penebangan hutan, dan aktivitas pertanian intensif mempengaruhi kualitas air. Di beberapa daerah, aktivitas penambangan juga menambah beban pencemaran.
Perempuan yang setiap hari turun ke sungai menjadi saksi paling awal perubahan ini. Mereka merasakan kulit yang lebih sering gatal setelah berjam jam di air, melihat jumlah remis yang makin sedikit, dan menyadari bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan satu keranjang penuh kini jauh lebih lama dibanding 20 atau 30 tahun lalu.
โDulu, dua jam di sungai keranjang sudah penuh. Sekarang kadang butuh setengah hari, itu pun belum tentu laku mahal di pasar,โ keluh seorang perempuan yang sejak remaja menggantungkan hidup dari remis.
Kegelisahan ini tidak sekadar soal penghasilan yang menurun, tetapi juga soal keberlanjutan tradisi. Jika sungai terus memburuk, bukan hanya ekonomi rumah tangga yang terganggu, melainkan juga hilangnya pengetahuan lokal yang dibangun selama generasi. Perempuan adat Serawai yang selama ini menjadi penjaga sungai justru sering kali tidak dilibatkan cukup dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya air di wilayah mereka.
Identitas, Martabat, dan Peran Sosial Perempuan Adat Serawai
Di balik aktivitas mencari remis yang kerap dipandang sebagai pekerjaan โkecilโ, tersimpan lapisan identitas dan martabat yang kuat. Perempuan adat Serawai memaknai kerja di sungai sebagai bagian dari peran sosial mereka dalam keluarga dan komunitas. Mereka bukan hanya pencari nafkah tambahan, tetapi sering kali justru menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Dalam banyak kasus, suami bekerja serabutan atau musiman, sementara penghasilan dari remis menjadi aliran uang yang paling rutin masuk ke rumah. Kondisi ini menggeser cara pandang tradisional tentang siapa pencari nafkah utama, meski tidak selalu diakui secara terbuka. Di ruang ruang obrolan antarperempuan, sering muncul cerita tentang bagaimana uang dari remis membiayai seragam sekolah, buku, hingga kebutuhan kesehatan anggota keluarga.
Status sebagai perempuan adat juga membuat mereka memikul tanggung jawab menjaga adat istiadat Serawai. Mereka terlibat dalam upacara adat, memasak hidangan tradisional, dan mengajarkan bahasa serta nilai nilai lokal kepada anak cucu. Sungai dan remis menjadi bagian dari cerita yang mereka sampaikan tentang asal usul kampung, perubahan zaman, dan pentingnya menjaga alam.
Dalam pandangan banyak dari mereka, bekerja di sungai bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bentuk pengabdian yang nyata. Keringat dan lumpur di kaki adalah simbol kerja keras, dan keranjang remis yang penuh menjadi bukti bahwa mereka mampu berdiri tegak di tengah keterbatasan.
โKalau tangan saya berhenti meraba dasar sungai, mungkin rumah ini juga akan berhenti berasap,โ begitu ungkapan getir tapi jujur yang kerap terucap.
Remis sebagai Rantai yang Menghubungkan Generasi
Hubungan antara perempuan adat Serawai dan remis bukan hanya soal ekonomi hari ini, tetapi juga soal kesinambungan generasi. Anak anak yang melihat ibunya setiap hari turun ke sungai tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup tidak pernah mudah, tetapi selalu bisa diupayakan. Mereka belajar tentang kerja keras, kebersamaan, dan sikap tidak menyerah dari punggung ibunya yang terus membungkuk di air.
Di sisi lain, ada juga dilema yang muncul. Banyak ibu yang berharap anak perempuannya kelak tidak perlu lagi bergantung pada remis seperti mereka. Pendidikan menjadi harapan utama untuk memutus rantai kemiskinan. Namun, pada saat yang sama, mereka juga ingin pengetahuan tentang sungai dan remis tidak lenyap begitu saja. Di sinilah muncul tarik menarik antara keinginan melindungi anak dari kerasnya hidup dan keinginan menjaga warisan budaya.
Remis pada akhirnya menjadi semacam simbol ganda. Ia adalah sumber nafkah yang menyelamatkan, sekaligus pengingat kerasnya realitas sosial ekonomi yang dihadapi perempuan adat Serawai. Dalam kerang kecil itu, tersimpan cerita panjang tentang 30 tahun atau lebih perjuangan yang jarang sampai ke panggung besar pemberitaan.
Perempuan yang tetap bertahan di sungai, meski usia kian menua, menunjukkan bahwa ketahanan bukan slogan, tetapi tindakan yang diulang setiap hari. Mereka tidak hanya melawan arus air sungai, tetapi juga arus perubahan sosial yang sering kali tidak berpihak pada kelompok paling rentan.
โSelama sungai masih mengalir, selama itu juga kami akan mencoba bertahan dengan apa yang kami punya,โ ujar seorang perempuan yang sudah lebih dari tiga dekade menggantungkan hidup dari remis, menyimpulkan dengan sederhana seluruh kisah panjang yang ia jalani.


Comment