Desa Adat Bawomataluo menjadi salah satu kawasan budaya paling penting di Pulau Nias, Sumatera Utara. Perkampungan tradisional yang berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan ini dikenal lewat deretan rumah kayu khas Nias, peninggalan batu megalitik, rumah besar Omo Sebua, tari perang hingga atraksi Fahombo atau lompat batu yang telah menjadi ikon kebudayaan Nias di mata wisatawan.
Nama Bawomataluo secara harfiah berarti Bukit Matahari. Sesuai namanya, desa dibangun di atas perbukitan pada ketinggian sekitar 270 meter di atas permukaan laut. Situs Warisan Dunia UNESCO mencatat kawasan tradisional Bawomataluo memiliki luas sekitar lima hektare dan berada sekitar empat kilometer dari pesisir. Posisi di atas bukit membuat permukiman tersebut memiliki karakter yang sangat berbeda dari desa pesisir di sekitarnya.
Bawomataluo juga bukan sekadar objek wisata yang menampilkan bangunan lama. Penduduk masih tinggal di kawasan tersebut dan berbagai kegiatan budaya tetap dijalankan. Pemerintah Indonesia saat ini bahkan kembali mendorong Bawomataluo agar memperoleh pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Hingga Agustus 2026, Bawomataluo masih tercatat dalam Tentative List UNESCO dan belum berstatus Situs Warisan Dunia.
Bawomataluo Dibangun di Puncak Bukit dengan Tata Ruang yang Terencana
Hal pertama yang membuat Bawomataluo menarik adalah tata permukimannya. Desa tidak tumbuh dalam susunan bangunan yang acak. Rumah tradisional didirikan saling berhadapan dan mengapit halaman panjang yang menjadi pusat kegiatan masyarakat.
UNESCO mencatat lokasi permukiman berada pada puncak bukit yang relatif datar. Susunannya memanjang dari tenggara menuju barat laut dan mengikuti karakter lahan. Pemilihan posisi tersebut memperlihatkan kemampuan masyarakat terdahulu dalam menyesuaikan tempat tinggal dengan topografi sekaligus kebutuhan sosial dan pertahanan.
Untuk memasuki kawasan tradisional, pengunjung akan melewati rangkaian tangga batu yang menjadi salah satu ciri Bawomataluo. Dalam dokumen Tentative List UNESCO, akses tersebut dijelaskan terdiri atas bagian awal dengan tujuh anak tangga dan bagian berikutnya yang mempunyai sekitar 70 anak tangga. Setelah mencapai bagian atas, bentang permukiman tradisional mulai terbuka di hadapan pengunjung.
Deretan rumah menghadap ruang terbuka di bagian tengah. Area inilah yang sejak lama digunakan untuk kegiatan sosial, ritual dan berbagai upacara adat. Susunan seperti itu membuat kawasan desa terasa seperti satu kesatuan arsitektur, bukan kumpulan rumah yang berdiri sendiri.
Ratusan Omo Hada Masih Mempertahankan Wajah Tradisional Nias Selatan
Rumah tradisional merupakan unsur yang paling mudah dikenali setelah memasuki Desa Adat Bawomataluo. Masyarakat Nias menyebut rumah adat sebagai Omo Hada. Bentuknya tinggi, menggunakan konstruksi kayu dan mempunyai bagian depan yang khas.
Data Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata menyebut Bawomataluo masih mempunyai 137 Omo Hada yang utuh. Bangunan tersebut berjajar mengikuti pola permukiman dan menjadi tempat tinggal masyarakat, sehingga kawasan ini tetap memiliki kehidupan sehari hari di balik statusnya sebagai destinasi budaya.
Omo Hada Nias Selatan mempunyai konstruksi yang memperlihatkan kemampuan tukang tradisional mengolah kayu berukuran besar. Beberapa bangunan memakai tiang tegak dan penyangga diagonal yang terlihat jelas dari bagian bawah rumah. Susunan kayu tidak sekadar membentuk ruang tinggal, tetapi juga menghasilkan struktur yang mampu berdiri selama beberapa generasi.
Tampilan rumah pun berkaitan dengan kedudukan sosial pemiliknya pada masa lalu. Dokumen UNESCO menjelaskan dimensi, ukuran serta akses menuju rumah dapat menunjukkan status orang yang menempatinya. Rumah berukuran besar dengan bentuk tertentu dapat dikaitkan dengan kelompok pemimpin atau bangsawan.
Menurut penulis, daya tarik Bawomataluo justru terasa kuat karena rumah tradisional tidak berdiri sebagai replika untuk wisatawan. Bangunan tersebut masih berada di tengah kehidupan masyarakat, lengkap dengan halaman, aktivitas keluarga dan hubungan antarwarga yang terus berjalan.
Omo Sebua Menjadi Bangunan Paling Mencolok di Bawomataluo
Di antara deretan Omo Hada terdapat bangunan yang ukurannya jauh lebih besar. Rumah tersebut dikenal sebagai Omo Sebua, yaitu rumah besar yang dahulu berkaitan dengan pemimpin atau raja setempat.
UNESCO mencatat rumah kepala atau raja berada di sisi barat daya kawasan dan menjadi bangunan terbesar di kompleks Bawomataluo. Berdasarkan silsilah masyarakat yang dicantumkan UNESCO, rancangan permukiman dikaitkan dengan Raja Laowo, sedangkan pembangunan rumah kemudian diselesaikan Saonigeho yang juga dikenal sebagai Siliwu Gere. Bangunan itu diperkirakan berasal dari abad ke 18.
Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut peninggalan tersebut sebagai Omo Hada Nifolasara dan menyoroti teknik pembangunannya yang tidak menggunakan paku seperti konstruksi modern.
Ukuran kayu yang digunakan membuat Omo Sebua mudah menarik perhatian pengunjung. Tiang besar menyangga struktur utama, sementara sistem sambungan tradisional mempertahankan bagian bangunan tetap terikat.
Bagi wisatawan, rumah besar tersebut menjadi salah satu titik utama untuk memahami bahwa arsitektur Nias tidak hanya ditentukan oleh bentuk atap. Pemilihan kayu, pembagian ruang, struktur kolong sampai susunan penyangga memperlihatkan pengetahuan pembangunan yang berkembang lama sebelum beton dan baja menjadi bahan umum.
Batu Megalitik Masih Berdiri di Halaman Permukiman
Bawomataluo juga dikenal sebagai kawasan yang memiliki tradisi megalitik kuat. Batu besar dengan bentuk dan fungsi berbeda tersebar di halaman permukiman, berdampingan dengan rumah kayu.
UNESCO membagi peninggalan megalitik di Bawomataluo ke dalam dua bentuk utama. Batu yang ditempatkan secara horizontal dikenal sebagai daro daro, sedangkan batu vertikal disebut naitaro. UNESCO mencatat ratusan peninggalan dari kedua jenis tersebut dapat ditemukan di halaman rumah masyarakat dari berbagai lapisan sosial.
Peninggalan batu tersebut membantu memperlihatkan sistem kehidupan masyarakat Nias pada periode sebelumnya. Batu dapat berkaitan dengan upacara, kedudukan seseorang, penghormatan serta kegiatan adat yang dilaksanakan masyarakat.
Selain peninggalan di kawasan utama desa, Bawomataluo memiliki sejumlah unsur budaya lain seperti pemandian dan area pemakaman tradisional megalitik. Pemerintah Kabupaten Nias Selatan pada 2024 bahkan menggelar konsultasi publik mengenai kajian zonasi Kawasan Cagar Budaya Nasional yang berfokus pada permukiman, pemandian serta pemakaman tradisional megalitik Bawomataluo.
Fahombo Membuat Nama Bawomataluo Dikenal hingga Luar Indonesia
Tradisi lompat batu atau Fahombo menjadi salah satu pertunjukan budaya Nias yang paling dikenal. Dalam atraksi tersebut, seorang pelompat berlari menuju struktur batu tinggi sebelum meloncat melewatinya dengan gerakan cepat.
Indonesia Travel mencatat Bawomataluo sebagai salah satu tempat terkenal untuk menyaksikan Hombo Batu. Atraksi tersebut tetap ditampilkan sebagai bagian dari kegiatan budaya di desa dan berbagai festival Nias.
Keterampilan melompat tidak diperoleh dalam satu kali percobaan. Pelompat membutuhkan kekuatan kaki, keberanian, kecepatan dan teknik untuk mampu melewati batu secara aman.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat Nias, kemampuan tersebut berkaitan dengan tradisi keprajuritan pada masa ketika konflik antarkampung masih terjadi. Pemuda harus memiliki kemampuan fisik untuk melewati rintangan. Seiring perubahan kehidupan sosial, Fahombo bertahan sebagai warisan budaya serta pertunjukan yang dapat disaksikan wisatawan.
Saat kunjungan resmi pemerintah ke Bawomataluo pada Oktober 2024, atraksi lompat batu masih menjadi bagian penyambutan tamu. Hal serupa kembali terlihat dalam kunjungan ke desa pada 2025.
Tari Perang Memperlihatkan Sisi Lain Tradisi Nias Selatan
Fahombo bukan satu satunya pertunjukan yang dapat ditemukan di Bawomataluo. Desa tersebut juga memiliki seni pertunjukan yang memperlihatkan hubungan antara musik, gerakan tubuh, pakaian adat dan sejarah masyarakat Nias.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat berbagai atraksi budaya Bawomataluo, termasuk Faluaya atau tari perang, Hoho sebagai seni tradisi lisan, musik batu atau Feta Batu serta Ndruri Dana yang menggunakan bambu.
Dalam tari perang, para penari biasanya tampil mengenakan busana tradisional dengan perlengkapan yang menyerupai perlengkapan prajurit. Gerakannya tegas dan dilakukan bersama sehingga menghasilkan pertunjukan yang berbeda dari tarian penyambutan biasa.
Hoho membawa sisi lain kehidupan budaya masyarakat. Tradisi tersebut menggunakan suara dan bahasa sebagai media penyampaian cerita, pengetahuan atau ekspresi bersama.
Kehadiran berbagai bentuk kesenian menunjukkan Bawomataluo tidak hanya mempertahankan benda fisik. Rumah dan megalit memang paling mudah terlihat, tetapi musik, tari, bahasa serta pengetahuan masyarakat merupakan bagian yang membuat desa tetap hidup.
Bawomataluo Berarti Bukit Matahari
Nama Bawomataluo mempunyai hubungan erat dengan posisi geografis desa. UNESCO menerjemahkannya sebagai Hill of the Sun atau Bukit Matahari.
Permukiman berada sekitar 270 meter di atas permukaan laut. Walaupun hanya berjarak beberapa kilometer dari laut, posisi puncak bukit membuat kawasan desa mempunyai sudut pandang yang berbeda dibanding permukiman pesisir.
Pemilihan tempat tinggi juga berkaitan dengan karakter permukiman tradisional Nias Selatan. UNESCO menilai lokasi Bawomataluo memperlihatkan pertimbangan terhadap perbukitan, lembah, jurang di sekitar desa serta sumber air yang tersedia tidak jauh dari kawasan tersebut.
Susunan permukiman kemudian mengikuti kondisi tanah. Rumah, ruang bersama dan fasilitas ritual ditempatkan sehingga membentuk pola yang teratur.
Karena itu, pengalaman berkunjung akan berbeda apabila wisatawan hanya melihat sebuah rumah Nias yang dipindahkan ke museum. Di Bawomataluo, bangunan dapat dilihat bersama bukit, jalan batu, halaman, megalit serta rumah lain yang sejak awal membentuk satu kawasan.
Status UNESCO Bawomataluo Kembali Menjadi Sorotan pada 2026
Bawomataluo telah masuk Tentative List UNESCO sejak 6 Oktober 2009. Pengajuan awal dilakukan pemerintah Indonesia dengan kriteria budaya i, iv dan vi. Namun, status Tentative List tidak sama dengan penetapan resmi sebagai Situs Warisan Dunia.
Pada 2026, proses untuk membawa Bawomataluo menuju pengakuan yang lebih tinggi kembali mendapat perhatian. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada April 2026 menyatakan sedang mempersiapkan proses pengusulan dan penyusunan dossier untuk kawasan tersebut.
Dorongan itu berlanjut pada Juli 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungan pemerintah agar Bawomataluo dapat masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Pemerintah mengakui prosesnya membutuhkan tahapan panjang karena dokumen nominasi harus membuktikan nilai budaya, keaslian, integritas serta sistem perlindungan kawasan.
Dengan demikian, penyebutan Bawomataluo sebagai Warisan Dunia UNESCO saat ini belum tepat. Posisi yang benar hingga Agustus 2026 adalah situs tersebut berada dalam Tentative List dan sedang kembali didorong menuju proses nominasi. Daftar resmi UNESCO untuk Indonesia juga masih menempatkan Bawomataluo pada kelompok Tentative List.
Pelestarian Rumah Tradisional Menjadi Pekerjaan yang Tidak Sederhana
Merawat kawasan seperti Bawomataluo berbeda dengan memelihara satu bangunan museum. Desa merupakan tempat tinggal warga sehingga kebutuhan kehidupan modern berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan bentuk tradisional.
Sebagian rumah berusia lama membutuhkan perbaikan kayu, atap dan struktur penyangga. Pada saat yang sama, masyarakat membutuhkan listrik, sanitasi, akses kendaraan serta fasilitas lain yang tidak tersedia ketika permukiman pertama kali dibangun.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebelumnya telah melakukan sejumlah program terkait Bawomataluo, antara lain penyusunan rencana sarana kawasan, kajian pengusulan menuju UNESCO serta revitalisasi rumah tradisional.
Kajian zonasi pada 2024 juga memperlihatkan bahwa pelestarian tidak hanya diarahkan kepada Omo Sebua. Permukiman, pemandian serta pemakaman tradisional megalitik menjadi bagian yang diperhatikan dalam pengelolaan kawasan budaya Bawomataluo.
Menurut penulis, tantangan terbesar Bawomataluo adalah menjaga desa tetap nyaman dihuni tanpa membuat bentuk tradisionalnya perlahan menghilang. Pelestarian akan jauh lebih kuat apabila masyarakat tetap mendapatkan ruang sebagai penghuni dan pemilik kebudayaan, bukan sekadar menjadi pelengkap atraksi wisata.
Wisatawan Bisa Menginap dan Mengenal Kehidupan Desa Lebih Lama
Bawomataluo kini terdaftar dalam Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata dengan kategori desa wisata berkembang. Dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia, Bawomataluo tercatat masuk 500 besar pada 2022 dan 300 besar pada 2023.
Fasilitas yang dicantumkan Jadesta antara lain area parkir, kamar mandi umum, kios suvenir, tempat makan, balai pertemuan dan area fotografi. Terdapat pula pilihan homestay yang memungkinkan wisatawan tinggal lebih lama di kawasan desa.
Pengunjung yang ingin melihat Fahombo juga dapat berkomunikasi dengan pengelola desa karena pertunjukan tidak harus berlangsung setiap saat. Jadesta mencantumkan atraksi Fahombo Batu sebagai salah satu produk wisata yang dikelola desa. Harga yang tercantum pada platform tersebut sebaiknya dikonfirmasi kembali sebelum berkunjung karena tarif dapat berubah.
Berjalan kaki menjadi cara terbaik untuk mengenal kawasan setelah mencapai bagian utama desa. Jarak antarrumah relatif dekat dan berbagai peninggalan berada dalam satu lingkungan permukiman.
Wisatawan juga perlu mengingat bahwa rumah tradisional merupakan tempat tinggal warga. Memasuki rumah, memotret penghuni atau menyentuh benda tertentu sebaiknya dilakukan setelah memperoleh izin.
Desa Adat Bawomataluo Memperlihatkan Nias Lebih dari Sekadar Pantai
Pulau Nias selama ini sangat dikenal melalui ombak selancar, terutama kawasan Sorake dan Lagundri di Nias Selatan. Bawomataluo memberikan alasan lain untuk datang ke wilayah tersebut.
Di desa ini, wisatawan dapat melihat hubungan antara rumah tradisional, tata permukiman, peninggalan megalitik, seni pertunjukan dan kehidupan masyarakat dalam satu tempat. Jadesta bahkan mencatat 137 Omo Hada masih utuh di kawasan tersebut, dengan Omo Sebua sebagai bangunan paling besar.
Deretan rumah yang saling berhadapan menciptakan koridor panjang, sementara batu megalitik menempati berbagai bagian halaman. Ketika Fahombo atau tari perang ditampilkan, ruang desa yang sehari hari digunakan masyarakat berubah menjadi panggung kebudayaan tanpa membutuhkan bangunan pertunjukan khusus.
Posisi Bawomataluo dalam Tentative List UNESCO sejak 2009 dan upaya pemerintah yang kembali menguat pada 2026 menunjukkan nilai desa ini tidak hanya berada pada kepentingan wisata.
Rumah Omo Hada, Omo Sebua, daro daro, naitaro, tangga batu, Fahombo, Faluaya dan Hoho membentuk kekayaan yang masih dapat ditemukan dalam lingkungan masyarakat yang hidup. Selama penghuni tetap terlibat dalam pelestarian, Desa Adat Bawomataluo akan terus menjadi salah satu tempat paling lengkap untuk memahami kebudayaan Nias Selatan secara langsung.


Comment