Ratusan Bambu Ikonis Kyoto Terancam Dipotong akibat Ulah Turis Hutan bambu Arashiyama di Kyoto, Jepang, selama bertahun tahun menjadi salah satu pemandangan yang paling mudah dikenali wisatawan. Jalur sempit dengan deretan bambu menjulang tinggi di kedua sisi menjadi tujuan wajib bagi banyak pengunjung yang ingin mengambil foto ketika berlibur ke kota bersejarah tersebut.
Keindahan itu kini menghadapi persoalan serius. Ratusan batang bambu ditemukan mengalami kerusakan akibat ulah pengunjung yang menggoreskan nama, inisial, simbol, hingga tulisan menggunakan benda tajam. Pemerintah Kota Kyoto mencatat sekitar 350 batang mengalami kerusakan sejak jumlah wisatawan kembali meningkat setelah pandemi.
Masalahnya tidak berhenti pada tampilan yang menjadi buruk. Bekas sayatan pada batang bambu tidak dapat dikembalikan seperti semula. Otoritas pariwisata Kyoto menjelaskan bambu yang mengalami kerusakan berat akhirnya harus dipotong dan dibuang. Kondisi tersebut membuat tindakan yang mungkin dianggap sebagai kenang kenangan sederhana oleh wisatawan justru menyebabkan tanaman yang telah menjadi bagian dari wajah Arashiyama harus disingkirkan.
Sekitar 350 Batang Bambu Ditemukan Mengalami Kerusakan
Persoalan vandalisme sebenarnya bukan sesuatu yang benar benar baru di kawasan Arashiyama. Pemerintah Kyoto pernah menghadapi kejadian serupa beberapa tahun lalu dan melakukan berbagai bentuk sosialisasi kepada pengunjung.
Kasus tersebut sempat berkurang ketika jumlah wisatawan turun selama pandemi. Setelah perjalanan internasional kembali ramai, kerusakan mulai muncul lagi.
Data Pemerintah Kota Kyoto menunjukkan sekitar 350 batang bambu sudah ditemukan mengalami kerusakan hingga pemeriksaan pada 6 Oktober 2025. Sebagian bambu digores menggunakan benda tajam untuk membentuk inisial maupun tulisan tertentu.
Kerusakan banyak ditemukan pada batang yang berada dekat dengan jalur pejalan kaki. Posisi tersebut memungkinkan pengunjung menjangkau permukaan bambu hanya dengan mengulurkan tangan.
Ketika seseorang mulai membuat ukiran, wisatawan lain dapat melihatnya dan kemudian melakukan tindakan serupa. Hasilnya adalah kumpulan tulisan yang semakin bertambah pada permukaan bambu.
Pemerintah kota menyebut tindakan sengaja merusak bambu sebagai persoalan serius karena kawasan tersebut dijaga bersama oleh pemerintah, masyarakat lokal, serta pengelola lahan di sekitar tempat ibadah.
Nama dan Inisial Digores dengan Benda Tajam
Jenis kerusakan yang ditemukan cukup mudah dikenali.
Pengunjung menggores permukaan batang untuk membuat huruf, nama, simbol, atau gambar. Benda yang digunakan dapat berupa batu maupun benda tajam yang mampu mengupas lapisan luar bambu.
Kyoto City Tourism Association secara khusus meminta wisatawan berhenti melakukan tindakan tersebut di Arashiyama maupun kawasan sekitar Fushimi Inari. Pemerintah menyebut tulisan dan simbol yang diukir pada bambu membuat tanaman rusak sekaligus mengurangi kualitas pemandangan.
Masalah menjadi semakin sulit karena batang bambu berbeda dari tembok yang dapat dicat kembali.
Sayatan pada permukaan tidak dapat begitu saja ditutup dan membuat kondisi tanaman kembali seperti sebelumnya.
Bekasnya dapat tetap terlihat selama batang tersebut berdiri.
“Menurut penulis, keinginan meninggalkan nama di tempat terkenal justru bertolak belakang dengan alasan orang datang ke Arashiyama. Pengunjung mencari keindahan yang terjaga, tetapi ukiran pribadi perlahan menghilangkan keindahan itu.”
Kyoto Sampai Memotong Bambu yang Berada Dekat Jalur
Pemerintah Kyoto akhirnya mengambil langkah yang cukup berat.
Pada 19 November 2025, sekitar 25 batang yang berada dalam jangkauan tangan pengunjung dan beberapa bambu lain dipotong sebagai langkah percobaan. Tujuannya menciptakan jarak yang lebih besar antara wisatawan dan tanaman sehingga permukaan bambu tidak mudah disentuh.
Pemotongan dilakukan bukan karena pemerintah ingin mengurangi keberadaan hutan bambu. Cara tersebut justru dipilih untuk mengurangi kemungkinan kerusakan lebih luas.
Langkah ini menunjukkan sulitnya mengelola lokasi yang pada dasarnya memang dirancang agar pengunjung dapat berjalan sangat dekat dengan vegetasi.
Bila pagar dibuat terlalu tinggi atau terlalu besar, karakter jalur bambu dapat berubah.
Bila tidak ada pembatas, tanaman mudah dijangkau.
Pemerintah akhirnya harus mencari jarak yang cukup aman tanpa membuat kawasan tersebut kehilangan ciri visualnya.
Pemotongan Tidak Hanya Menyasar Bambu yang Sudah Rusak
Pengaturan jarak juga membuat beberapa tanaman yang berada terlalu dekat dengan jalur berpotensi perlu dipindahkan atau dipotong meskipun kondisinya masih baik.
Inilah konsekuensi yang paling disayangkan.
Ulah sebagian kecil pengunjung dapat membuat pengelola harus mengubah susunan tanaman yang selama ini membentuk lorong bambu terkenal tersebut.
TV Asahi melaporkan pemerintah melakukan pemotongan percobaan terlebih dahulu, kemudian memantau apakah langkah tersebut cukup efektif untuk menekan vandalisme. Pemerintah bekerja bersama organisasi lokal sebelum menentukan kebijakan berikutnya.
Dengan demikian, bukan berarti seluruh hutan bambu akan ditebang.
Langkah yang sedang dilakukan lebih terarah pada titik yang paling mudah dijangkau wisatawan dan tanaman yang mengalami kerusakan.
Bambu yang Sudah Tergores Sulit Dikembalikan
Salah satu alasan pemotongan dipilih adalah keterbatasan cara memperbaiki bambu.
Kyoto Travel secara tegas menyatakan batang yang rusak tidak dapat dikembalikan menuju keadaan asli. Tanaman tersebut pada akhirnya harus dipotong dan dibuang apabila kerusakannya tidak dapat dipertahankan.
Pemerintah sebelumnya mencoba menutupi bagian yang tergores menggunakan pita berwarna hijau.
Cara tersebut dapat menyamarkan tulisan ketika dilihat dari jarak tertentu, tetapi hasilnya tetap tidak sama dengan permukaan alami.
Bahkan Pemerintah Kyoto mengakui pemasangan banyak pita dan papan peringatan dapat ikut mengganggu pemandangan yang sedang berusaha dilindungi.
Situasi ini menciptakan pilihan yang tidak sederhana.
Membiarkan goresan berarti pengunjung terus melihat tulisan pada batang.
Menutupnya menggunakan bahan tambahan membuat hutan dipenuhi tambalan.
Memasang semakin banyak papan larangan juga mengubah suasana.
Memotong bambu akhirnya menjadi salah satu pilihan ketika kerusakan tidak dapat diperbaiki.
Jalur Bambu Arashiyama Membentang Sekitar 400 Meter
Popularitas Arashiyama tidak muncul tanpa alasan.
Jalur bambu yang paling terkenal membentang sekitar 400 meter. Batang tumbuh rapat di kanan dan kiri, sementara dedaunan membentuk penutup alami di bagian atas. TV Asahi menggambarkan jalur tersebut sebagai salah satu tempat wisata terkenal yang setiap hari didatangi banyak orang untuk menikmati suasana khas Jepang.
Pemandangan menjadi semakin menarik karena perubahan cahaya sepanjang hari.
Pada pagi hari, cahaya masuk melalui celah daun dan menghasilkan bayangan panjang di jalan. Saat angin bergerak, batang dan daun menghasilkan suara yang menjadi salah satu bagian dari pengalaman berada di sana.
Area Saga dan Arashiyama juga tidak hanya mempunyai hutan bambu.
Pengunjung dapat menuju Kuil Tenryuji, Sungai Katsura, Jembatan Togetsukyo, kereta wisata Sagano, sejumlah kuil kecil, museum, hingga kawasan perbukitan di sekitarnya. Situs resmi wisata Kyoto menempatkan kawasan tersebut sebagai salah satu wilayah wisata utama kota.
Jumlah Wisatawan yang Kembali Tinggi Membuat Pengawasan Sulit
Arashiyama dapat menerima pengunjung dalam jumlah sangat besar ketika musim wisata sedang tinggi.
Saat musim gugur 2025, TV Asahi melaporkan kawasan sekitar Jembatan Togetsukyo mengalami kepadatan besar hingga diberlakukan pengaturan arah bagi pejalan kaki. Kereta wisata juga mengalami persaingan pemesanan tiket sejak satu bulan sebelumnya.
Jumlah pengunjung yang sangat tinggi membuat pengawasan terhadap setiap batang bambu hampir tidak mungkin dilakukan secara terus menerus.
Seseorang hanya membutuhkan beberapa detik untuk membuat satu goresan.
Pengelola juga tidak dapat menempatkan petugas di samping setiap tanaman.
Karena itu, Pemerintah Kyoto melihat pencegahan melalui perilaku pengunjung sebagai bagian penting dari perlindungan kawasan.
Masalah ini menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi terkenal bukan hanya persoalan menyediakan transportasi dan fasilitas. Perilaku wisatawan sendiri menentukan apakah tempat tersebut tetap dapat dinikmati dalam keadaan serupa.
Merusak Bambu Bisa Masuk Tindak Pidana
Pemerintah Kyoto tidak lagi sekadar meminta wisatawan bersikap sopan.
Otoritas kota menegaskan menggores dan merusak bambu dapat dikategorikan sebagai perusakan properti menurut hukum Jepang.
Panduan Responsible Travel Kyoto menyebut pelanggaran dapat berujung pada denda sampai 300 ribu yen. Pemerintah meminta pengunjung menyimpan kenangan melalui foto, bukan dengan menuliskannya pada batang bambu.
Peringatan tersebut dibuat semakin jelas setelah kejadian tidak hanya ditemukan di Arashiyama.
Kerusakan berupa tulisan dan simbol juga ditemukan pada bambu di sekitar Fushimi Inari.
Karena itu, kampanye perlindungan bambu kini dimasukkan dalam panduan etika wisata Kyoto yang ditujukan kepada pengunjung internasional.
Bahasanya cukup sederhana.
Wisatawan boleh mengambil foto sebanyak yang diinginkan, tetapi tidak boleh menjadikan tanaman sebagai tempat meninggalkan jejak pribadi.
Papan Larangan Sudah Dipasang dalam Empat Bahasa
Pemerintah bukan tidak pernah mencoba pendekatan yang lebih ringan.
Ketika vandalisme sebelumnya meningkat sekitar 2018, kota bekerja bersama polisi, membagikan materi informasi, serta memasang papan peringatan dalam beberapa bahasa.
Kerusakan kemudian menurun selama periode pandemi ketika wisatawan jauh lebih sedikit.
Setelah pengunjung kembali, tindakan serupa kembali ditemukan.
Kini papan informasi tersedia dalam empat bahasa untuk membantu wisatawan dari berbagai negara memahami larangan tersebut.
Namun, terlalu banyak papan juga membawa persoalan tersendiri.
Arashiyama dikunjungi karena pemandangan alaminya. Bila setiap beberapa meter terdapat papan besar berisi larangan, karakter visual tempat tersebut dapat berkurang.
Pemerintah kemudian mulai mencari bentuk pengingat yang lebih menyatu dengan lingkungan.
Kyoto Mencari Cara Baru Selain Menambah Pagar
Sepanjang 2026, Pemerintah Kyoto membuka kesempatan kerja sama untuk mencari cara perlindungan yang lebih efektif.
Melalui Kyoto City Open Labo, pemerintah mengajak organisasi serta perusahaan memberikan gagasan untuk menjaga kawasan bambu sekaligus mempertahankan tampilannya. Program tersebut menerima proposal sepanjang 2026.
Salah satu ide yang dibahas adalah membentuk pendukung patroli.
Wisatawan yang bersedia membantu dapat menggunakan penanda khusus dan mengingatkan pengunjung lain apabila melihat tindakan merusak.
Gagasan lain adalah memanfaatkan bagian bambu rusak yang sudah dipotong untuk membuat objek kode QR berukuran besar.
Pengunjung dapat memindainya untuk melihat informasi mengenai kerusakan serta alasan tindakan tersebut tidak boleh dilakukan.
Pemerintah juga membuka kemungkinan penggunaan teknologi maupun pendekatan lain selama tidak mengganggu tampilan kawasan.
Pagar Bambu Ikut Diperbaiki pada 2026
Perlindungan fisik di sekitar jalur juga mendapat perhatian.
Pada April 2026, Pemerintah Kota Kyoto mengumumkan perbaikan pagar bambu yang telah mengalami penurunan kondisi di sekitar Bamboo Grove Path.
Pembiayaan sebagian perbaikan berasal dari keuntungan acara Arashiyama Tsukitouro yang kemudian disumbangkan untuk kegiatan tersebut. Pemerintah menyatakan tindakan itu menjadi bagian dari upaya menjaga pemandangan sekaligus mengurangi kerusakan pada bambu di sepanjang jalur.
Pagar mempunyai fungsi penting karena menjadi batas antara jalur berjalan dan area tanaman.
Namun, desainnya tetap dibuat rendah agar pengunjung dapat menikmati pemandangan.
Keseimbangan inilah yang membuat pengelolaan Arashiyama cukup rumit.
Pagar yang semakin kuat dapat memberikan perlindungan lebih baik, tetapi jika terlalu besar justru menghalangi karakter hutan yang membuat wisatawan datang.
Bambu Arashiyama Tidak Tumbuh Indah Tanpa Perawatan
Pemandangan bambu yang tersusun rapi terkadang membuat pengunjung mengira kawasan tersebut tumbuh begitu saja secara alami.
Padahal, bambu membutuhkan pengelolaan.
Kyoto City Open Labo menjelaskan bambu mempunyai pertumbuhan sangat cepat. Moso bamboo dapat mencapai tinggi sekitar 20 meter hanya dalam beberapa bulan. Bila tidak dirawat selama beberapa tahun, hutan dapat menjadi sangat rapat dan gelap.
Pemerintah Kyoto mencatat terdapat sekitar 660 hektare kawasan bambu di seluruh kota. Sebagian menghadapi persoalan kurangnya perawatan karena menurunnya kebutuhan terhadap material bambu dan semakin sedikit pengelola yang menjalankan pekerjaan tersebut.
Artinya, tampilan rapi di Arashiyama merupakan hasil pekerjaan manusia yang dilakukan berulang.
Batang perlu dipilih, dipotong, dibersihkan, dan diatur agar kepadatan tetap sesuai.
Ketika ratusan bambu harus ditangani akibat vandalisme, pekerjaan pemeliharaan menjadi semakin berat.
Kawasan Juga Dikelola Bersama Pemilik Lahan
Bagian lain yang membuat pengelolaan tidak sederhana adalah kepemilikan lahan.
Pemerintah Kota Kyoto menjelaskan kawasan di sekitar Bamboo Grove Path terdiri atas tanah milik kota serta lahan milik pihak lain, termasuk institusi keagamaan di sekitarnya. Pengelolaan selama ini dilakukan melalui kerja sama pemerintah dan kelompok lokal.
Karena itu, tindakan terhadap bambu tidak selalu dapat dilakukan melalui satu keputusan tunggal.
Pemerintah perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempertahankan karakter kawasan secara keseluruhan.
Masyarakat lokal juga memiliki kepentingan besar terhadap keberadaan hutan.
Arashiyama bukan hanya latar foto wisatawan. Daerah tersebut merupakan lingkungan hidup, wilayah usaha, serta bagian dari identitas lokal yang telah dijaga dalam waktu panjang.
“Bagi penulis, persoalan Arashiyama memperlihatkan bahwa wisatawan seharusnya meninggalkan sebuah tempat dalam keadaan yang memungkinkan pengunjung berikutnya melihat keindahan yang sama.”
Kerusakan Satu Batang Mengubah Tampilan Keseluruhan Jalur
Satu tulisan mungkin terlihat kecil dibandingkan ribuan batang yang berdiri di kawasan tersebut.
Namun, persoalan muncul ketika tindakan dilakukan berulang.
Sepuluh ukiran berkembang menjadi puluhan. Puluhan kemudian bertambah menjadi ratusan.
Ketika kerusakan terjadi tepat di sepanjang jalur utama, tulisan mudah terlihat dalam foto maupun ketika orang berjalan.
Pemerintah Kyoto menyebut kerusakan individual akhirnya ikut menurunkan kualitas seluruh pemandangan.
Pemotongan kemudian meninggalkan ruang kosong.
Semakin banyak bambu yang harus disingkirkan, semakin besar perubahan pada kerapatan lorong yang menjadi karakter Arashiyama.
Inilah alasan pemerintah tidak melihat grafiti sebagai tindakan kecil.
Wisatawan Diminta Menyimpan Kenangan Lewat Foto
Pesan yang disampaikan pemerintah Kyoto dibuat sangat langsung.
Wisatawan diminta menyimpan kenangan melalui foto dan hati, bukan dengan menggoreskan nama pada bambu.
Imbauan tersebut terasa relevan di lokasi yang justru menjadi salah satu tempat paling banyak difoto di Jepang.
Pengunjung sudah mempunyai kamera telepon yang mampu menghasilkan ribuan gambar.
Tidak ada kebutuhan untuk meninggalkan tanda permanen pada tanaman agar sebuah perjalanan dapat diingat.
Pemerintah juga meminta pengunjung menghargai budaya, lingkungan, serta kehidupan masyarakat lokal selama berada di Kyoto.
Pemotongan Masih Menjadi Pilihan Ketika Bambu Tidak Bisa Diselamatkan
Pemerintah Kyoto sampai sekarang masih berusaha mencari bentuk perlindungan yang tidak mengubah tampilan Arashiyama secara berlebihan.
Pemotongan percobaan telah dilakukan, pagar diperbaiki, papan berbahasa asing dipasang, bagian rusak ditutup, dan gagasan baru masih dicari sepanjang 2026.
Namun, satu keadaan belum berubah.
Bambu yang sudah mengalami goresan berat tidak dapat dibuat kembali seperti sebelum dirusak. Otoritas wisata Kyoto menyatakan tanaman seperti itu pada akhirnya perlu dipotong dan dibuang.
Karena itu, ancaman terhadap lorong bambu terkenal tersebut sebenarnya tidak datang dari satu proyek pembangunan besar. Persoalannya berasal dari tindakan kecil yang dilakukan berkali kali oleh pengunjung.
Setiap nama yang digores dapat menambah satu batang ke daftar tanaman yang harus ditangani. Setiap bambu yang akhirnya dipotong membuat pengelola kembali bekerja menata jarak, kepadatan, pagar, dan tampilan jalur agar Arashiyama tetap memberikan pengalaman yang selama ini dicari wisatawan dari berbagai negara.


Comment